Rabu, 09 September 2009

Solar Focus: China invests in biggest solar project, private sector struggles

This is part of a series of short news updates beyond Greenpeace-specific news. World environmental events in a blurb:

While China invests in the world’s biggest solar project, the recession could cut the solar industry in half by 2010.

The Information Network, a market research firm, announced that 50 per cent of solar panel manufacturers might not survive next year. While the cost of solar panels is going down, making solar panels more accessible for the private sector, the economic recession is making business tough for the manufacturers. (Could we be looking at a solar energy oligopoly in the near future?)

Meanwhile, First Solar Inc., a U.S.-based renewable energy company, just announced it will build the world’s largest solar power plant in China as the country plans to increase non- polluting electricity generation.

Competing with the German Desertec project (which would provide 15 per cent of Europe’s energy) to be the biggest solar project, the Chinese plant will be 30 times larger than existing solar power stations operating in Europe. The 2,000-megawatt complex will be built in the Inner Mongolian desert by 2019. Only 1 megawatt is enough to power 800 homes.

China may increase its capacity to generate electricity from sunlight more than 13-fold by 2011, said Cui Rongqiang, head of the Shanghai Solar Energy Society. The country’s solar-power capacity may rise to 2,000 megawatts by 2011 and 20,000 megawatts by 2020, from 150 megawatts in 2008.

“There are a few existing solar projects of about 50 to 60 megawatts, but this would be the biggest by a country mile,” said Charles Yonts, an analyst specializing in alternative energy.

China, the world’s biggest polluter, burns coal to produce 80 per cent of its electricity. Taking steps towards a greener future, China wants at least 15 per cent of the nation’s energy to come from renewable sources by 2020.

And how much is this going to cost China?

The National Development and Reform Commission, China’s economic planning agency, says China plans to invest $293 billion in its alternative-energy industry through 2020.

And with these plans, China may pass Europe, Japan and the U.S. in becoming the world’s largest user of renewable energy by 2010…let the competition begin!

Senin, 07 September 2009

Nikmatnya secangkir kopi Pahit 007 setelah meneguk Rp.4 trilyun !!




Pagi itu, Jum'at Juni 2007,
Berkemeja Batik dengan parfum Hugo Boss dan seberkas Produk Eco Art dengan cover "Ukiran" yg wah telah kupersiapkan....tuk menemui seorang kawan, deputy gubernur BI. Tepat jam 11. kami berdua, bersama M.Dahlan (sekjen Perbasi) diterima dengan hangat..layaknya bagai kawan lama semasa mahasiswa. Obrolan santai, kami lebih banyak perkenalkan diri sebagai "kawan kawan yg bergerak di sektor riil.....dengan nama Eco Art, sebuah produk ukir dari kayu, yang bahan bakunya dari pohon Budidaya, bukan pohon dari hutan alam. Dan usaha tsb kami padukan dengan Nursery Mini, untuk mendukung Reboisasi, kebun mini atau hutan mini. Dengan semangat visioner murni, yang akan menjawab tantangan kedepan dalam aspek Global Warming dan Paradigma Ekonomi yg menjamin Kesinambungan kedepan.

Sambutan sang deputy Gubernur BI sangat hangat.........namun begitu kami sampaikan harga sebuah meja Aristokrat dari pohon berusia 150 tahun, dengan ukiran "Gunungan wayang" sekitar 50 juta rupiah, dahi kawanku berkerut.....kira-kira kubaca pikirannya: duhhh mahal banget yaaaaahhhhh.
"Bagaimana kalau bikin pameran dengan BI untuk produk-2 yg berharga kurang 5 juta Syid?" ajaknya ramah.

Aku bingung lagi....sbg UKM dengan segala energy dan modal yg telah tercurah 100% untuk produk-produk yg berkelas, ternyata jauhhh meleset perkiraanku: bahwa ternyata daya beli dari para elit bangsa ini ternyata sekitar Rp. 4 juta. Bagaimana bisa memutar balik, stok yg sudah terlanjur untuk produk yg sbenarnya masih dalam kategori sangat rendah. "Oke sobat...kami senang sambutanmu!.Selamat bertugas, semoga Bank Nasional makin Maju!" Kuhabiskan secangkir kopi dengan cangkir yang mewah, dan kami pulang meninggalkan kawanku.
********************
Dua tahun Kemudian, Senin malam 2009 Kudengar penjelasan Wapres RI, Pak Jusuf Kalla "bahwa yang dilakukan oleh Pemilik Bank Century adalah Perampokan sistemik sebesar Rp. 4 trilyun !. Bail out mestinya hanya 2,7 trilyun. Memoriku teringat disaat aku bertemu dengan Kawanku yang Deputy Gubernur BI..kalau bisa produk-produk yang berharga Rp.4 juta saja. Otakku berkecamuk: Bagaimana bisa pengawasan BI kebobolan shg Pemerintah nyuntik Rp.4 trilyun untuk Obligasi Bodong?? Inikah negara Angkara Murka, sebuah Kertas "Obligasi Bodong BISA meraup Rp.4 trilyun !!