Rabu, 26 Maret 2014

GREEN GALLERY Ramah Lingkungan Bersama RUMAH PERUBAHAN

Rumah Perubahan  kini semakin hidup, dan terus berjalan menjalani masa demi masa dengan segala perubahan dan inovasi, yang selalu menyentuh dan menekuni segala kegiatan usaha masyarakat, dari pelatihan (teori) kewira-usahaan, outbond, dan terus tiada lelah mengembangkan pola usaha mandiri seperti pengolahan tempe yang terintegrasi dengan peternakan / penggemukan sapi & kerbau dan penyediaan rumput gajah, pengembangan& konservasi ribuan jenis tanaman langka, pemancingan lele integrasi dengan perikanan dllsb, yang segala kiprahnya akrab dan ramah lingkungan.. 

Green Gallery ~ Galery Hijau, sebuah galery yang menyajikan Karya solid table dari bahan kayu hasil tanaman budidaya rakyat (bukan hutan)  dan Bibit tanaman  pohon keras serta Konsep pengembangan hutan mini / kebun mini / city forest /landsaping akan hadir Rumah Perubahan. Perjalanan wujudkan gagasan galery hijau  memang harus melalui proses alami, mengalir interaksi dinamis dengan persahabatan ~ sahabat, jual-beli karya yang dihasilkan, tanam koleksi pohon,  visioning berbagai hal hingga jalan-jalan ke dunia lain (Pulau Buru) nun jauh di Maluku, uji coba berbagai jenis tanaman pohon keras di Banten.  

Setelah mencermati perkembangan lahan / ladang perkebunan di wilayah propinsi Jakarta, Banten dan Jabar yang banyak idle atau kurang optimal penggunaannya dan tantangan kedepan kota-kota besar dalam bidang lingkungan, kemudian mengkerucut pada konsep Galeri Hijau.  Sebuah galery yang menyatu dengan interaksi dan kiprah  Rumah Perubahan yang berkeinginan mencetak ratusan ribu hingga jutaan wirausahawan, dan menyatu ~ akrab dengan lingkungan alam.

Interaksi dinamis dalam kolaborasi Green Galery dalam Rumah Perubahan, tentu saling mendukung dari dimensi estetika baik karya solid table yang artistik, dan tentu saling memberikan manfaat yang saling menguntungkan (ekonomi), hingga pengembangan riil konsep dan pelaksanaan usaha hutan mini, kebun mini, city forrest hingga landsaping.  Jalan kedepan, akan terus berjalan tiada lelah, karena perjalanan hidup dan segala usaha itulah yang menjadi indah, dengan segala tantangan baik suka maupun duka.  Berbagai integrasi kegiatan - usaha akan selalu berkembang, dan terus mencari jalan yang terbaik pada masa nya. 

Life is journey never feel  arrived. Itu yang saya dapati dalam sosok Rhenald Kasali, tak pernah puas, tak ada istilah kata putus asa, mencoba dan mengembangan berbagai jenis kegiatan usaha rakyat, kemudian diamati menjadi bahan/materi pengujian, di obersvasi  dan sebagai laboratorium hidup, kemudian dibuat rumusan hypotesa  ~ bagaimana mengembangankan strate, kiat dan pola yang terbaik dalam membangun wirausaha rakyat Indonesia kedepan. 

Semoga Green Gallery ini juga masuk dalam bagian laboratorium hidup dan obersvasinya ~ for tomorrow's habitat yang sustainable !


Solid Table, Rumah Perubahan, Fin's Cafe & Bibit tanaman keras 

Solid Table pola Badak  bercula  satu ~ Banten



Fin's Cafe di Rumah Perubahan 



Green Zone



Pengolahan tempe integrated penggemukan Sapi
Pemancingan ikan


Bibit tanaman keras: merbau & ki-besi Banten.

Bibit tanaman keras, merbau & besi Banten
Bibi yang besar / tinggi, mudah besar dan bagus untuk pertmanan, cepat untuk hutan mini.










Selasa, 28 Januari 2014

Green Gallery, Jakarta perlu lifestyle bernuansa lingkungan untuk masa depan Jakarta.

Galery Hijau, lebih tepat istilah ini kunamai sebagai pola hidup masa depan, sebuah lifestyle untuk membangun habitat yang bernuansa lingkungan untuk masa depan ~ tommorow's habitat. Memang sebuah galery serba hijau. pohon, sawah yang subur dengan panorama gunung menjulang, air gemericik yang bersih, ribuan bibit pohon yang cepat tumbuh besar, workshop di desa dengan tenaga terampil dari penduduk lokal, dan proses asimilasi nyambungnya  tali- jiwa  dan ikatan batin sebagai keluarga baru dengan penduduk desa. Tak perlu khawatir merasa kesepian, atau terisolasi dengan dunia luar, peralatan hardware dan komunikasi IT wireless...terhubung dengan masyarakat luar  tak terbatas, menghubngkan interaksi  dinamis hingga yang paling cital, "marketing" berbagai karya, ide dan produk serta berbagai pola kerjasama.

Ketika hujan makin lebat, makin lama, makin bawa berkah. Cadangan air tanah brtambah, bibit & pohon kian cepat tumbuh besar. Tanaman ijo royo-royo. Jika sudh sngat besar, ya ditebang, terus berulang ditanam lagi sebagai ekonomi ekosistem (greenomics). Kini pohon kayu besi, merbau, jati lanang  pun mudah dikembangkan dari batang-2 pohon. Ribuan bibit yang disiapkan untuk membangun kemandirian masysrakat desa dalam memanfaatkan ladang kosong,nganggur hingga  mengembangkan sebagai pola usaha perkebunan / hutan rakyat !  

Tidaklah muluk-muluk yang kuingin kembangkan, hanya 5 -10 keluarga yang sudah memiliki ladang sekitar 1-2 ha dan mulai tanam, merawat hingga besar sembari terus kusampaikan, bahwa  Jakarta ~ membutuhkan kemajuan wilayah hinterland, ratusan ribu rakyat membangun  pola perkebunan rakyat, hutan rakyat dengan keunggulan & kesesuaian daerah dan lahan di tiap daerahnya. Seterusnya mereka memetik buah hasil tanaman, menebangpohon keras yang ditanam, tanpa eksodus  ke Jakarta. Ratusan ribu hingga  jutaan  hektar kebun atau hutan rakyat itulah yang menyerap air hujan, mencegah migrasi ke penduduk ataupun  ratusan juta m3 air  ke Jakarta....dan mencegah Banjirrr !.


Nikmatnya ngupi-ngupi bersama rakyat - kopi tanaman rakyat - disedu rakyat sembari olah meja, nikmati beras organik yang pulen dan mendengarkan gemercik air dibawah rindangnya  kebun. Mau jalan cross country atau gowes bias telusuri  desa-desa di lereng gunung. Jika mau coba “ngeprik” dengan masyarakat petani, ya ikut ngeprik dan membantu, pasti diberi makan siang, ubi rebus dan kopi.  Jika saja masih kudengar dan kulihat Jakarta kebanjiran, ya salah sendiri enggak mau tanam pohon dan nikmati saja.....kata  SBY  "selalu  ada  pilihan" dengan nada Lebay ! hahaha


Hinya dan hanya  jika...Jakarta dengan pemimpin siapapun, termasuk Jokowi kalau hanya mengandalkan dominan "proyek fisik  semata, sungai, waduk, bendungan" tanpa atau minim membangun sosial-masyarakat beserta alam lingkungan kehidupan mereka, ya akan terus  membesar segala permasalahannya. 


 Suasana yang asri begini yang kita butuhkan kedepan

Udara segar, air bersih menghasilkan beras  organik pulen yang enakk 

 Puluhan ribu bibit pohon "besi / merbau/ jati lanang" kusemaikan

 Subhanallah.....ternyata  mudah  bersemi dan tumbuh  dari batang yang besar !

  Subhanallah.....ternyata  mudah  bersemi dan tumbuh  dari batang yang besar !

ikut  ngeprik  padi  di sawah, bantu  petani,  enjoy  saja 

 Gallery  hijau slalu  romantis...buat ngopi-2 & jualan solid table 

 Coffee and  duren,  selalu bersemi rasa Cinta yang sepadan

diantara  ribuan  pohon yang dtumbuh....slalu  ada  kayu  abnormal  yang eksotik, untuk Gitar "high class"




Sabtu, 18 Januari 2014

Nikmati suasana solid table natural nan exotic, menjelang perubahan bersama Rumah Perubahan ~ RK.

Saat sahabat ku seangkatan - Feui 1980 ini meminta profil ku, usaha dan visi apa dibalik usaha ku dalam menekuni 'solid table', untuk buku 60 th FEUI, aku setengah tidak percaya. Hemmm, tak apalah kusambut baik keinginannya dan berprasangka baik, kemudian terbitlah dengan judul yang cukup mengagetkan "Karya Seni Sang Pengusaha Kayu'...hahaha. Tertawa terbahak bahak selama 4 tahun sejak penerbitan buku 60 tahun FEUI itu. Kini secara tak kusadari, aku menjadi 1/2 seniman kayu dan 1/2 ekonom pelaku ekonomi.

Namun, secara bertahap temenku si Rhenald masih penasaran dengan kayu nangka, yang kubilang "memiliki aura yang sejuk untuk berbagai fungsi.  Di Bali kayu nangka favorit untuk pura, sedang masyarakat di Jawa menyukai kayu untuk bangun warung atau kios usaha. Awalnya kukirim 1 meja polos solid, dan nampak anggun. Berlanjut terus memesan "solid table" yang alami, tanpa banyak perubahan (pengolahan), selain hanya diserut, diamplas dan dihaluskan dengan sepasang kaki alami dari cabang pohon.  Semua meja solid yang kuolah 100% dari pohon budidaya, ditanam oleh masyarakat, berupa pohon Jati, Nangka, dan terahir Nangka Hutan.  Dan kini.....hampirr seluruh ruang, gazeboo hingga aula atau ruang utama serba Solid Table karya dari Sang Seniman Pengusaha Kayu ! Bagiku, "economy is the way of thinking, giving beneficial within  creating  value  added"


Yang sangat menyentuh bagiku, Rhenald untuk Rumah Perubahan tak pernah berkata / bicara apalagi campaign "gunakan produk dalam negeri", namun sikap dan keputusan nyata untuk menggunanakan karya anak bangsa Indonesia, dan dari semuanya dari pohon budidaya sembari terus  galakkan ~ upayakan budidayakan ribuan hingga puluhan ribu berbagai tanaman dari pelosok tanah air hingga mancanegara. Sudah sepantasnya Rumah Perubahan memang nyaman untuk merubah diri dan berubah secara bersama sama secara nyata.



 nikmati suasana yang cool dengan solid table  di Rumah Perubahan 



Pohon buah peripit yg kuperoleh dari sahabat ~ Bangkit Sanjya, 
smoga tumbuh subur di Rumah Perubahan. 
Bagus untuk tanaman pagar dan berhasiat kurangi / cegah diabetes.




Kamis, 01 Maret 2012

GINSENG, Rajanya Obat dan Sehat Alami !


Adalah wajar bila ginseng didaulat sebagai rajanya obat-obatan, 

mengingat sedemikian banyak khasiat 
yang dapat diperoleh dari tanaman 
yang sepintas menyerupai bentuk jahe ini.

Beberapa di antara khasiat ginseng adalah meningkatkan stamina, memperlambat proses penuaan, awet muda, menghilangkan racun dan untuk kecantikan. Tak hanya itu ginseng juga mampu membasmi keluhan-keluhan badan seperti kekurangan tenaga, cepat lelah, rasa ngantuk, kurang nafsu makan, insomnia, daya ingat yang lamban, darah tinggi, anemia, warna muka pucat, urinasi berlebihan, konstipasi, ejakulasi dini, masalah kesuburan pada wanita, noda-noda hitam pada kulit, kadar gula tinggi, kolesterol berlebihan di dalam tubuh, rematik, gagal jantung dan bermacam jenis penyakit lainnya.

Berikut di antara berapa jenis ginseng. Changbai Mountain Ginseng, yakni jenis ginseng yang secara alamiah bersifat hangat, menjadi komoditi distribusi utama di wilayah Pegunungan Jilin Changbai di China dan wilayah Vladivostok di Rusia. Berikutnya, American Ginseng yakni ginseng dengan sifat dingin yang lebih dikenal sebagai ginseng Amerika, dimana kebanyakan berasal dari Amerika Serikat, Kanada, dan Prancis. Sementara, Korean Ginseng adalah ginseng dengan sifat panas yang terdapat di daerah Korea Utara dan Korea Selatan.

Ginseng mudah ditanam, di Polybag, Pot atau di lahan / tanah meski terbatas. Dari batang diyang sudah agak tua, diputus dan distek, atau dari biji bunga Ginseng yang  sudah tua. Dan dari biji inilah Tanaman Ginseng mudah berkembang biak.

PEMBIBITAN dan PENANAMAN

- Diutamakan pakai bibit dari setek batang.
- Gunakanlah induk tanaman sehat, tidak terindikasi gejala serangan hama dan penyakit, umur tidak terlalu muda dan terlalu tua, segar dan tidak layu, warna cerah/mengkilap.
- Bibit hasil setek diistirahatkan/disimpan di tempat lembab selama 2 - 4 hari.
- Sebelum tanam, pangkal bibit dipotong miring ± 45ยบ menggunakan pisau tajam dan bersih.
- Pangkal bibit direndam 20-30 menit dalam larutan POC NASA (1-2 ttp) + HORMONIK (0,5-1 ttp) + 1-2 sendok makan Natural GLIO per 10 liter air.
- Bibit dikeringanginkan ± 1-2 jam.
- Penanaman dilakukan sore hari, jarak tanam 50 x 60 cm atau 60 x 70 cm.

HAMA dan  PENYAKIT TANAMAN

Hama
1. Bekicot Biasanya aktif pada malam hari, dan perlu diwaspadai keberadaannya. Pengendalian dengan cara dikumpulkan dan dimusnahkan.

2. Ulat Banyak jenis ulat yang menyerang pada ginseng terutama ulat grayak (Spodoptera sp.), Ulat penggulung daun (Lamprosema sp.), dan ulat jenis lainnya. Pengendalian dengan cara mematikan ulat, semprot Vitura atau Pestona dan alternative terakhir dengan Insektisida kimia.

3. Uret/Lundi
Hama ini menyerang akar bahkan bisa ke umbi sehingga tanaman lama kelamaan bisa layu dan akhirnya mati. Pada saat tanam bisa ditaburkan insektisida granular di sekeliling tanaman

PENYAKIT
1.Penyakit Busuk Leher Batang  Penyebabnya jamur Phytium sp. atau Sclerotium sp. Biasanya di awal tanam ginseng mengalami pembusukan yang disebabkan oleh kelembaban tanah yang berlebihan. Leher batang atau pangkal batang tampak berwarna kelabu atau kecoklatan, lunak kebasahan dan melekuk ke dalam. Jamur ini dapat menjalar ke bagian umbi, lama-kelamaan daun tampak layu. Pengendalian dengan cara pengaturan drainase, kebun tidak becek dan tidak lembab. Sejak awal sebelum tanam gunakan Natural GLIO.

2. Penyakit Busuk Umbi
Penyebabnya jamur Phythopthora sp. Gejalanya daun yang mulanya hijau berubah menjadi kuning. Lama kelamaan menjalar hingga menyebabkan kematian. Bila tanaman dicabut pada pangkal umbi/batang tampak bulu-bulu putih yang kemudian berubah menjadi bulat-bulatan dan akhirnya berubah menjadi coklat tua sampai hitam. Pengendalian gunakan Natural GLIO sebelum tanam, jaga kelembaban tanah dan alternative terakhir dengan fungisida sistemik

3. Penyakit Layu
Bisa disebabkan jamur Fusarium sp. atau bakteri Pseudomonas sp. Tetapi kebanyakan disebabkan oleh jamur Fusarium. Mulanya tulang daun menguning, kemudian menjalar ke tangkai daun dan akhirnya daun menjadi layu. Pengendalian dengan cara sebarkan Natural GLIO sebelum tanam dan celupkan stek sebelum tanam ke dalam POC NASA dicampur Natural GLIO.

 PANEN
- Tanaman Ginseng dipanen umur 4 - 5 bulan tergantung pertumbuhan dan keadaan umbi. Cirinya; batang semula hijau berubah merah, daun menguning dan mulai rontok, berbunga dan mengeluarkan biji, umbi bila didangir sudah cukup besar (diameter diatas 1 cm).

- Pemanenan pada pagi hari saat kondisi cerah, tidak hujan dan daun tidak berembun lagi, tanah kering.

- Umbi dipanen sekaligus dengan menggunakan garpu tanah untuk menggemburkan permukaan tanah.

- Sebelum umbi dicabut pangkal batang tanaman dipangkas dan dipisahkan dari batang serta daunnya. Pencabutan umbi harus dilakukan hati-hati, jangan sampai umbinya putus dan tertinggal dalam tanah. Umbi yang telah dicabut dibersihkan dan dibawa ke tempat teduh untuk penyortiran.

Hasil Ginseng dari Polybag


Hasil Ginseng dari budidaya di Tanah, lebih gemuk

Tanam di Polybag

Tanam di Lahan 1 m2

Sabtu, 17 Desember 2011

Dari "Kudengar Rakyat Memanggil" menuju INDONESIA MEMANGGIL !

Mungkin sy lebih tepat menyampaikan:
SELAMAT  BERJUANG saudara PANDU !
Berjuta juta  Rakyat Mengongtrol mu,
BEBASKAN  INDONESIA dari KORUPSI ! 

Tetapkan Neraca, Jalankan sesuai Prioritas Masalah: 
Korupsi Pemikiran terhadap Keadilan, Korupsi Sistemik, Skandalis-Konspirasi, 
Korupsi Berjamaah, Mafia Pajak-Migas !

 Dari "Kudengar Rakyat Memanggil" menuju INDONESIA  MEMANGGIL !




Selasa, 01 November 2011

The Beauty of "bunga bangkai" Titan Arum ~ semoga Bibit yg Kusemai Ber-mekaran !



Bunga Bangkai ~ yang di Indonesia seolah tiada berarti, namun Penuh PESONA di Negeri2 Maju.Mestinya bunga bangkai ini masuk dalam Keajaiban Dunia.


Kebun Raya Basel mengharapkan kunjungan dari 10.000 orang selama bunga setinggi 2m ini mekar.


Mekaran bunga diperkirakan akan mulai berkurang Sabtu malam atau hari Minggu.


Menurut kantor berita AP, bunga yang aslinya dari dataran Asia ini (dikenal luas di Indonesia) hanya pernah mekar 134 kali dari bibit yang dibiakkan secara buatan.


Bunga itu mulai muncul dari tanah Maret lalu, dan selama beberapa hari kemudian bunga itu tumbuh sekitar enam sentimeter sehari, kata situs web Swissinfo.


Bunga induknya mekar di Kebun Raya Palem Frankfurt tahun 1992.
Seperti dari tempat asalnya di Pulau Sumatra, tanaman ini menghendaki iklim yang lembab untuk tumbuh dan sangat langka bunganya, bahkan meski di lokasi liarnya sekalipun.


Bau bunga ini, menurut deskripsi sejumlah orang adalah campuran antara aroma gula terbakar dan daging busuk, dipakainya sebagai daya tarik untuk mengundang serangga yang nantinya akan dimangsa bunga ini.
 Thanks for Almighty God, the leafs start growing !









Mekarnya Titan Amorphophallus, menarik pengunjung 10 ribu orang !
kebun raya Universitas Basel ~ Swiss pada hari Jumat malam 22 April2011




People lined up Thursday to get a look and a whiff of the blooming corpse flower at the Univ. Washington Botany Greenhouse. At right is Doug Ewing, greenhouse manager. At left, a visitor samples the then-fading foul aroma of Amorphophallus titanum, June 2011



Senin, 31 Oktober 2011

Rhenald Kasali: FADEL MUHAMMAD, Welcome Back !



Thursday, 27 October 2011


Secara pribadi saya tidak mengenalnya, bahkan bertemu saja baru satu kali. Itu pun di sebuah forum resmi, dalam diskusi tentang ekonomi kelautan yang diselenggarakan Radio Smart FM di Medan beberapa bulan lalu.


Namun, sejak Indonesia kehilangan Jusuf Kalla sebagai ”pendobrak” dan ”penggerak” ekonomi yang tidak pernah diam dalam ide, saya menemukan sosok ”bergerak” pada Fadel Muhammad. Selain tangannya dingin, kakinya ringan bergerak. Seperti yang sering saya katakan kepada para ekonom muda, ekonomi Indonesia ini bukannya kereta api otomatis yang cuma butuh jari untuk dijalankan.
Ekonomi kita adalah sebuah kapal besar yang tak akan bergerak kalau hanya dipikirkan. Ekonomi kita butuh a real entrepreneur yang piawai menggerakkan, melakukan breaktrough dan siap berperang melawan para mafioso. Jadi, pemimpin seperti inilah yang kita butuhkan, bukan harus dikurangi, tetapi perlu diperbanyak. Sayang kalau kita mengabaikannya.


Berperang Melawan Belenggu Fadel mengagetkan kita saat dia maju berperang melawan ”beruang-beruang ekonomi” yang memaksa Indonesia melakukan impor komoditas tradisional yang banyak dikonsumsi rakyat. ”Beruangberuang” itu tidak hanya memasukkan barang, melainkan juga menyodorkan data-data yang sudah dipoles yang seakan- akan kita sudah kekurangan segala komoditas dari beras, daging sapi,sampai garam, dan bawang merah. Pokoknya semua kurang dan mengancam inflasi.


Lalu apalagi kalau bukan harus impor? Kita melihat Fadel maju ke depan membongkar kontainerkontainer berisi ikan kembung yang diselundupkan ke pasar Indonesia. Bukan cuma ikan kembung. Ternyata ikan lele dari Malaysia yang sangat mudah dikembangbiakkan di sini juga membanjiri pasar domestik melalui perbatasan Kalimantan, Pelabuhan Belawan, dan pelabuhan-pelabuhan penting lainnya.


Dari ikan kembung dia bergerak menyelamatkan industri garam rakyat yang bertahuntahun digempur para importir bangsa sendiri. Impor-impor seperti itu jelas sangat berbahaya bagi masa depan bangsa ini.Harga impornya boleh sangat murah, dipasarkan dengan dumping atau tidak, tetapi perlahan-lahan mematikan ekonomi rakyat yang tersebar di seluruh pesisir Nusantara.


Setelah pertanian terpuruk, kini petambak garam pun dibunuh bangsa sendiri. Fadel-lah yang menuntut agar harga dasar garam rakyat dinaikkan. ”Kalau petambak hanya menerima Rp325 per kilogram, bagaimana mereka bisa hidup?”gugatnya.Dia pun mengusulkan agar dinaikkan menjadi Rp900.Petambak garam tentu senang dan mereka bisa kembali bekerja.


Tetapi kabar itu tak berlangsung lama karena kita mendengar Kementerian Perdagangan hanya mau menaikkan sampai ke Rp700. Itu pun beredar kabar ada saja pejabat—yang berdalih atas nama pasar bebas—tak mau tanda tangan. Petambak bisa jadi senang kepada Fadel, tetapi importir dan pemberi lisensi impor belum tentu.


Kalau petambak garam dimanjakan Presiden, mereka bisa kembali menyekolahkan anak-anaknya dan makannya bisa lebih terasa enak.Mereka akan giat berproduksi dan impor garam akan hilang. Apakah benar inflasi akan terjadi hanya karena harga garam naik? Beberapa orang meragukannya, pasalnya harga dari petani yang rendah tidak menjamin harga kepada konsumen ikut rendah.
Bahkan impor murah sekalipun hanya menjadi alasan bagi importir untuk menguasai pasar.Harga akhir yang dibayar konsumen pun tetap saja tinggi. Lantas kalau harga dasar petambak dinaikkan, bagaimana nasib importir? Tentu mereka tidak tinggal diam. Menteri Perdagangan—atas nama perjanjian dagang yang dipayungi WTO—dan kita semua yang pernah belajar teori ekonomi, boleh saja percaya pada kompetisi dan pasar bebas.


Tetapi secara moralitas,tak ada bangsa yang secara tulus dan ikhlas membuka pasarnya secara bebas,murni 100%. Hanya bangsa yang bodohlah yang membiarkan pintunya dibuka lebar-lebar dan membiarkan ”beruang-beruang ekonomi” menari-nari memorak- porandakan pasar domestiknya.
Sementara pasar timbal-baliknya dibarikade dengan standar dan peraturanperaturan yang tidak bisa ditembus. Anda tentu masih ingat betapa sulitnya produkproduk kelautan kita menembus pasar Amerika dan Eropa. Ketika Indonesia membuka pasar perbankan begitu leluasa bagi bank-bank asing,misalnya, Bank Mandiri kesulitan membuka satu saja cabangnya di Kuala Lumpur.


Apalagi membuka cabang dan jaringan ATM. Di Eropa kita juga melihat betapa sengitnya bangsa-bangsa yang percaya pada pasar bebas membuka pasar industri keju lokalnya dari gempuran keju buatan Kraft yang diproduksi secara massal. Di Amerika Serikat masih dalam ingatan kita pula, barikade diberikan kepada China saat CNOOC (China National Offshore Oil Corporation) berencana membeli perusahaan minyak Amerika (UNOCAL).


Sejumlah anggota kongres menekan Presiden Bush (2005) agar pemerintah membatalkan proposal China tersebut. Keju,minyak,udang,kopi,kertas, minyak sawit, atau tekstil sekalipun selalu dihadang masuk kalau industri suatu bangsa terancam. Jadi apa yang terjadi dengan lisensi impor di negeri ini? Sebuah keluguan atau kesengajaan? Bisakah kita memisahkan perdagangan dari pertahanan dan keamanan kalau wujudnya sudah mengancam kehidupan? Siapa peduli?


Pro-Poor
Maka sangat mengejutkan saat pekan lalu kita membaca Fadel Muhammad tidak lagi menjalankan tugas negara sebagai menteri kelautan dan perikanan. Sebagai warga negara kita mungkin terlalu rewel untuk mempersoalkan pencopotannya sebab semua itu adalah hak Presiden. Tetapi bagi seorang yang menjalankan misi Presiden yang pro poor–pro growth dan pro job, saya kira pantas kalau nada sesal layak kita ungkapkan.


Dia justru diganti karena membela kepentingan rakyat, pro-poor. Ibaratnya dia tengah berada di garis depan melawan ”beruang-beruang ekonomi” yang hanya memikirkan keuntungan sesaat dengan ”membeli” lisensi impor yang mematikan hak hidup rakyat jelata. Saya sebut mereka ”beruang ekonomi”karena seperti yang dikatakan Fadel, sesendok garam itu asin,tapi sekapal garam adalah manis.


Hanya beruanglah yang mampu mengendus rasa manis itu. Tahukah ”beruang-beruang ekonomi”itu bahwa petambakpetambak garam dan nelayan adalah penjaga perbatasan yang melindungi negeri dari segala serangan. Apa jadinya negeri ini bila hidup mereka dilupakan?


Bukankah lebih baik menjaga pertahanan perbatasan dengan memberikan kapal-kapal yang bagus dan pekerjaan yang menarik kepada para nelayan daripada membeli kapal perang yang tak pernah cukup untuk menjaga bibir-bibir pantai yang begitu luas?


Maka yang mengejutkan publik sebenarnya adalah mengapa bukan ucapan terima kasih dan bintang yang disematkan pada Fadel; melainkan serangkaian ucapan defensif dari kelompok-kelompok tertentu?

Karena itu, melalui tulisan ini, saya justru ingin memberi motivasi yang tulus agar Fadel Muhammad tidak berhenti sampai di sini,melainkan terus berkarya bagi kaum papa, petani-petani garam, dan para nelayan yang ”kalah” bukan dari persaingan bebas, melainkan dari ”beruang-beruang ekonomi”yang menjual negeri melalui lisensi impor.


Seorang pemimpin sejati tidak memimpin hanya karena dipanggil tugas.Pemimpin sejati bertugas karena panggilan. Saya senang membaca berita bahwa Fadel telah kembali bekerja dengan Yayasan Garamnya. Selamat bergabung di sektor ketiga. Inilah sektor kemandirian yang bekerja murni untuk memberantas kemiskinan.


Inilah sektor non-APBN yang memanggil orang-orang yang mau berjuang tanpa pamrih. Asosiasi Kewirausahaan Sosial yang saya pimpin tentu senang menyambut Fadel.Saya percaya Fadel pasti bisa berbuat lebih besar karena dia punya kekuatan perubahan yang justru tak dimiliki politisi lain. Simpati besar dari rakyat untuk Fadel layak kita sematkan.


_ RHENALD KASALI Ketua Program MM UI