Jumat, 19 Desember 2008

KERJASAMA GREENOMICS-2 DG Ir.Sayuti Asyathri..SOHIB LAMA


TELPON BERDERING....
Kuangkat telpon dari sohib lama..Ir.Sayuti Asyathri, sering kupanggil Bib Sayuti
"Mursyid, ada bibit pohon apa saja ? di rumahmu" dari Perdatam, Bib Sayuti menyapa
"Yaaa Bib...ada Mahoni, Duren, Matoa, Kecapi dll", tinggi sudah 40cm up. Ditanam dimana Bib?" tanyaku, pada Habib Sayuti..
"di Gunung-gunung, Sukabumi.. tapi nanti tolong anda kawal ya Penanaman dg Masyarakat. Ada berapa pohon ?" minta Bib Sayuti,
"Oke Bib...ada sekitar 5.500 pohon.. Siap .harga murah, aku kasih bonus Pupuk Kandang 2 ton. Biar tanaman hidup segar. "sejenak kugeser tempat sinyal lemah
"Baik Syid...pohon yang bisa hasilkan buah dan atau kayu bagus. Masukin web mu
tapi harganya yang murah Syid". Sayuti nambahin,
"Okelah Bib..sudah nasib UKM sulit untuk jadi besar & kaya... he he. Kapan mulai tanam?" tanyaku
"nanti kutelpon lagi ya "Habib Sayuti nambahkan
Yah baguslah... seorang wakil rakyat, sahabat lama dan tokoh oposisi yang hendak me-Makzulkan SBY gara-gara PilGub Maluku Utara tergerak untuk mendukung Greenomics ku. KUTUNGGU BIB...!

Kamis, 11 Desember 2008

VISIONER KERETA API INDONESIA (KAI)


Keharusan Perubahan Mendasar :
Untuk Mampu Memenuhi Tuntutan Kebutuhan / Kemajuan Zaman
Sunan Mursyid Santoso


LSDP menurunkan Visioner usaha Kereta Api Indonesia, mengingat perjalanan bangsa-negara Indonesia sejak merdeka hingga kini (62 tahun), KAI belum menunjukkan kemajuan yang berarti dibanding kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan penumpang, kemajuan teknik dan kemajuan usaha. Padahal Kereta api adalah angkutan massal yang sangat efisien, dibanding masalah menipisnya sumber Bahan Bakar Minyak nasional untuk moda transportasi lainnya. Sehingga citra latent KAI adalah waktu tempuh lama (kurang maju) selalu merugi padahal penumpang berjejal penuh sesak dan rawan kecelakaan.

A. LATAR BELAKANG
a. Permintaan untuk angkutan massal yang memadai & cepat semakin besar dengan jumlah kebutuhan mencapai 150 juta penumpang tiap tahun, dan permintaan angkutan barang yang makin besar,
b. Di Pulau Jawa, ketersediaan angkutan darat, udara, laut semakin sulit terpenuhi sejalan dengan penambahan jumlah penduduk & penumpang yang semakin besar, serta biaya (cost) yang mahal untuk BBM. Untuk wilayah Jabodetabek, angkutan kereta api, harus mampu memenuhi commuter yang menghubungkan DKI-Jaya dan 5 kota sekitar yang diperkirakan akan mencapai 5-10 juta tiap hari pada 2010 hingga 2020. Sedang untuk wilayah Jawa, harus memenuhi penumpang mencapai 150-200 juta juta penumpang tiap tahun, dengan tingkat kecelakaan minimal dan menguntungkan (tidak rugi yang selalu disubsidi Negara).
c. KAI memiliki kelemahan mendasar & fundamental yang harus melakukan perubahan mendasar sebagai KENISCAYAAN yang harus dijalani untuk menjawab tantangan yang besar di atas, sehingga KAI bisa lepas dari kondisi GERBONG TUA YANG BERJALAN DIATAS REL TUA, DIKELOLA OLEH ORGANISASI / MANAJEMEN KUNO, SEHINGGA RAWAN KECELAKAAN, ANJLOK & PENUH SESAK dan MERUGI.

B. PERUBAHAN-PERUBAHAN MENDASAR
Untuk memenuhi tuntutan besar sebagai konsekuensi kemajuan jaman, KAI harus melakukan perubahan yang sangat mendasar, yang meliputi Visi Usaha Per-kereta apian dengan berbagai dimensi usaha, Perubahan Organisasi KAI sesuai dengan Visi dan Dimensi usaha, Strategi & Pentahapan perubahan, Perubahan Strategi Kapitalisasi untuk pembangunan & Usaha serta Pelaksanaan Rencana Urgent Jangka Pendek-menengah. Perbaikan dan pembangunan KAI yang dilakukan secara gradual (marginal improvement) dengan sistem tambal sulam (setapak) justru akan menjebak KAI dalam masalah yang lebih kompleks. Tantangan yang harus dijalani kini adalah mempersiapkan Kerangka / Tatanan Perubahan Mendasar, dan setelah Tatanan baru yang dipersiapkan diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan hingga 50 tahun mendatang, adalah mengganti / merobohkan organisasi-tatanan-sistem yang selama ini berjalan (prepare new system, applying & demolishing old system).

B.1. Perubahan Visi Mendasar KAI serta Dimensi Usahanya
Menyikapi KAI adalah badan usaha sementara prasarana rel kereta api dibangun oleh Pemerintah (Departemen Perhubungan), dan organisasi-system KAI masih berdasarkan paradigma lama (organisasi kuno) yang sulit merespons tuntutan permintaan dan kemajuan jaman, maka KAI harus melakukan mempersiapkan dan merubah VISI Usaha yang mampu memenuhi / merespons kebutuhan hingga 50 tahun kedepan, dengan 4 sifat yang harus diemban: makin maju (cepat & aman), makin untung (value added centre), responsif-akomodatif peran swasta dan minim kecelakaan. VISI Usaha KAI sudah saatnya mampu merumuskan Koordinasi-Sinkronisasi yang selalu “TUNNING-IN” dalam 3 bidang usaha, yakni : Usaha Prasarana Rel, Usaha Carrying Penumpang (Loko-gerbong), Usaha Pelayanan Stasiun & Property dan Kebutuhan Modal (Kapitalisasi) untuk pembangunan. Kendala UU atau Aturan yang mengekang usaha KAI untuk maju, harus direspons dengan Penyiapan Perumusan UU & PP yang tunning-in dengan Visi Usaha KAI tersebut. Adapun perubahan Visi usaha KAI dapat dirinci sbb:

a) Visi Prasarana Rel Kereta Apiserta Tantangan 50 tahun,
b) Visi Industri Pengangkutan (Carrier) & Dimensi Usahanya: KAI dan Swasta,
c) Visi Stasiun & Dimensi Usaha Industri Property (Mall, Hotel, Apartment, Pergudangan),
d) Visi Industri Lokomotif & Gerbong dan Usaha Perbaikan & Spare-parts,
e) Tunning-in Organisasi Perusahaan Anak KAI & Perubahan UU Yang Dibutuhkan
f) Visi Kapitalisasi & Akomodasi peran swasta (merubah dominasi usaha) yang mampu menjawab ad.a s/d ad. d
g) Perubahan UU & PP Yang Dibutuhkan Untuk Pemenuhan Visi ad.a) s/d f).

Penyiapan VISI Usaha KAI diatas, dapat diibaratkan sebagai penyiapan infrastruktur Organisasi-System yang baru, untuk mengganti organisasi-sistem yang lama. Selanjutnya, tantangan berikutnya adalah bagaimana strategi dan pelaksanaan rencana bertahap. Sistem Organisasi KAI yang selama ini “vertically integrated” telah terjebak dalam kelemahan-kerapuhan (sdm, modal, teknologi, sistem manajemen) yang mengakibatkan unit-unit kegiatan mencipatakan “cost-centre” dan kebocoran dengan hasil akhir kerugian. Akibatnya KAI sulit merespons permintaan yang sangat-sangat besar masyarakat. Kendala UU dan Peraturan yang mengekang KAI menambah kelemahan mendasar dalam meraih peluang untuk menambah Kapitalisasi untuk pembangunan rel, menambah loko-gerbong, utilisasi asset lahan untuk property dlsb. Apabila kita menyaksikan pelayanan KRL-Jabotabek sehari-hari: sungguh sangat menyedihkan: ratusan orang berjejal penuh sesak dalam tiap gerbong, dan mengabaikan potensi puluhan –ratusan ribu penumpang tidak terangkut~~ Ironis dengan angkutan Metro Mini, Sopir-kenek sering konflik hanya memperebutkan 1-2 penumpang!! Padahal Pemda DKI-Jaya niscaya berminat bila diajak dalam anak perusahaan KAI untuk melayani jutaan warganya yang menggunakan KRL. Demikian juga Pemda Jabar, Jateng, DI-Yogya dan Jatim serta Banten.

B2. Pelaksanaan Rencana Bertahap
Setelah Kerangka/ Tatanan Mendasar ditetapkan dengan payung hukum yang jelas dan sesuai dengan yang dibutuhkan, Tahap selanjutnya meletakkan-melaksanakan Strategi dan Rencana bertahap. Pentahapan pelaksanaan mendasar adalah menetapkan induk dan memecah organisasi / anak unit usaha dengan basis orientasi Vallue Added Centre & Publik menurut Perwilayahan (Zoning) Pemerintahan. Induk perusahaan adalah organisasi inti yang akan melahirkan anak-anak perusahaan dan sebagai Koordinasi-Sinkronisasi sistem KAI.

Unit Pembangunan Rel yang selama ini direncanakan & dibangun Pemerintah, sudah saatnya dijadikan anak perusahaan infrastruktur, misalnya: PT.Indo-RT (Indonesian Railways Transport). Pendirian unit usaha khusus untuk rel, dapat memiliki fleksibilitas dalam perencanaan, pembangunan dan kerjasama investasi dengan sumber-sumber keuangan, dengan dasar “bagi hasil keuntungan” (bukan pinjaman), untuk menghindari “default” atau masalah yang berhubungan dengan asset lahan atau asset KAI. Penyediaan infrastruktur rel oleh Anak perusahaan akan memiliki “keterukuran” usaha yang tinggi dalam pembangunan jalur-jalur baru, perbaikan-pemeliharaan dan perencanaan pembangunan kereta api di luar Jawa. Sumber-sumber keuangan yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah beserta masyarakat dapat dimobilisasikan dalam investasi anak perusahaan rel. Sedang integrasi usaha prasarana adalah Stasiun dan jasa property diatas lahan-lahan KAI yang selama ini nganggur-kumuh di kota-kota besar. Dengan demikian, kalkulasi beaya-keuntungan (cost-benefit) dari investasi pembangunan rel memiliki komplemen dengan Stasiun sebagai kontrol penghasilan, dan unit property (hotel, mall, mart, gudang dll) sebagai tambahan income. Pemerintah daerah dan masyarakat daerah yang terlibat dalam kapitalisasi (kepemilikan saham) akan lebih memelihara prasarana rel KA.

Unit usaha Loko-Gerbong (Carrying) akan lebih mudah dijadikan anak perusahaan / unit usaha dengan membuka kesempatan swasta dan Pemerintah Daerah untuk masuk dalam usaha loko-gerbong (carrying). Persaingan usaha SANGAT DIBUTUHKAN sebagai pemacu motivasi untuk kompetisi: pelayanan, tarif dan vallue added. Masuknya swasta dalam carrying akan lebih meringkankan negara dimasa mendatang yang alami kesulitan dalam menutupi subsidi kerugian KAI, sekaligus sebagai kontrol terhadap “budgeting” KAI dan menekan kebocoran. Demikian pula untuk unit pelayanan “Bengkel Perbaikan” sudah harus dijadikan unit usaha (anak perusahaan) dan terbuka untuk Swasta masuk dalam usaha Bengkel sebagai kompetitor, sehingga unit bengkel tidak menjadi “cost & sunk cost centre” bagi KAI.

Untuk merespons tuntutan permintaan yang sangat besar di wilayah Jabodetabek, sudah saatnya dibentuk anak perusahaan , misalnya Joint-Venture dengan Pemda DKI-Jaya dengan membentuk PT.MRT-KAI-Jaya (Mass Rapid Transportation KAI Jakarta Raya). Pembentukan usaha patungan KAI dengan Pemda DKI-Jaya dan masyarakat, akan mempermudah-mempercepat pembenahan dan perubahan mendasar dalam KAI di berbagai wilayah.

a) Pembagian Usaha (Value Added & Publik) dan Organisasi Menurut Visi Mendasar
b) Kajian Perusahaan Induk & Anak Dalam Menjawab Tuntutan Kapitalisasi
c) Kapitalisasi (obligasi) dengan melibatkan PEMDA & Masyarakat untuk membangun infrastrukstur & Stasiun (+Property dalam Revitalisasi asset KAI)
d) Kapitalisasi Syariah untuk Anak Perusahaan Pengangkutan (Carrier)
e) Anak Perusahaan Jasa Pemeliharaan Rel & Carrier (VA Center)
f) Anak Perusahaan Jasa Property & Pergudangan (VA Center)
g) PP Yang Dibutuhkan

B3. Rencana Urgent Jangka Pendek

Penerbitan Obligasi/ Penyertaan Daerah/ Usaha patungan (Perusahaan & Masyarakat) dengan PEMDA DKI dan masyarakat dalam melahirkan MRT JAYA sudah menjadi urgensi yang harus segera dilaksanakan, mengingat daya dukung jalan darat Jakarta tidak memadai (makin macet) dan membludaknya jumlah penumpang commuter (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang & Bekasai). Jakarta pada th 2014-menurut proyeksi JICA, akan mengalami kemacetan luar biasa di seluruh jalan darat !. Keuntungan yang sebenanrnya sangat-sangat besar dari MRT-Jaya juga dapat dipergunakan untuk mempercepat pembangunan di propinsi lain Jawa, dan yang penting : MEMPERCEPAT DEMOLISHING FUNDAMENTAL ERROR KAI !!!!
Tulisan ini hadiah idea boeat Mas Ronni Wahyudi (dirut KAI) & Ki Ageng AK.Hadiwijoyo (dirkeu), semoga anda bisa lahirkan "ORIENT EXPRESS INDONESIA.....agar Perjalanan ke Solo lebih ROMANTIS & CEPATTTT.

Minggu, 30 November 2008

Ekonomi Ekosistem, Menjaga Kelangsungan & Keseimbangan






EKONOMI HIJAU EKOSISTEM
(Greenomics)


Paradigma perekonomian & pembangunan kita harus didasarkan pada jati diri bangsa, yakni Ekonomi Kemanfaatan: Pertanian, Kerajinan, Industri, Perdagangan riil. Segala usaha, didasarkan pada kemanfaatan nyata. Bukan Value Engineering kapitalistik semu (penuh tipu muslihat). Ekonomi harus dibangun, yang mampu membangkitkan peran sosiologis masyarakat beserta potensi yang dimilikinya: lahan, daya kreatifitas, kemauan, keunggulan. Manusia dan sumber-2 aset, dikembangkan. Bila manusia berkembang (maju), niscaya akan tumbuh daya kreatifitas & daya kemajuan berikutnya. Contoh riil: lahan petani yang kini hanya rata-rata 0,5 ha/ petani, sudah saatnya ada Inovasi & kreatifitas pengolahan, baik jenis tanaman, pola penanaman, permodalan dan keterkaitan dengan pasar atau industri berikutnya. Misalnya, dengan kerusakan hutan yang mencapai 82 juta hektar, saatnya dikembangkan Visioner Hutan Mini atau Kebun Mini (hasil buah dan kayu) yang bisa mendukung dunia industri Kertas, plywood, meubel & kerajinan. Kini, kita kekuarangan kayu jenis Meranti dari hutan. Padahal pohon Duren, Kecapi, Bayur dll sangat besar potensi dikembangkan. Dalam masa 4-10 th bisa menghasilkan buah, selanjutnya pohon usia 10 th keatas bisa menghasilkan kayu. Dampak positif thd lingkungan sangat besar: menyerap air (kurangi banjir) , hasilkan O2 segar, menahan Erosi. Sungguh Ironis: Berbagai Bendungan (dam) yang dibangun dengan biaya puluhan trilyun rupiah di Jawa, kini mengalami pendangkalan hebat, 4 kali lebih cepat dari rencana, karena tidak pernah direncanakan: Usaha Perlindungan dengan Visi yang Jelas (Ekonomi Hijau: Penanaman & Konservasi) wilayah hinterland yang merupakan masyarakat pedesaan-pertanian. (Mari belajar Kisah sukses Negara Muangthai dengan Duren Montong bukan hanya memajukan masyarakat, tetapi juga merubah citra dari Negara dengan wisata Sex ke Negara Pertanian maju.). Kita harunya malu, pohon Kecapi dikembangkan Muangthai dengan rasa buah jadi Manis (aslinya Asam), dan pohon tumbuh lebih cepat besar. Pernahkan terpikir, Perkebunan Alpokat, Nangka, Matoa dll ? Padahal pohon tsb begitu MUDAH nya tumbuh, berkembang & berbuah !!!. dan besar permintaan pasarnya.


Bangsa kita, telah terbawa hanyut dalam ekonomi pasar kapitalistik, yang menampakkan “kesemuan”, bagaikan mencari fatamorgana, penuh jebakan dan ketidak-pastian. Betapa tidak. Mahzab & teori ekonomi berdasar pertumbuhan telah menyesatkan. Sumber alam, dikuasai & dikuras oleh kekuatan modal, disekuritisasi oleh perusahaan swasta (Nas & Asing), saham dijual ke pasar modal, dan jadilah: sumber alam (emas, batu-bara, migas, nickel dll) dikuasai kekuatan modal. Berlawanan dengan pasal 33 UUD.45 (Segala sumber alam, bumi, tanah & air dikuasai Negara & digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat). Begitu juga penguasaan hutan, lahan dengan HPH. Kini, sudah begitu boanyaknya pengusaan Lahan Tambang, Kawasan Penangkapan Ikan, Perkebunan, Hutan oleh swasta asing. Ekonomi nasional, begitu rawan terhadap Ancaman : Ketidak Nyambungan !. Hantaman sedikit saja terhadap gejolah harga Batu-bara, migas membawa Ancaman Krisis Energi. Bahkan Negara Agraris, tetapi RENTAN terhadap ancaman Krisis Pangan dan Kelaparan.


Saatnya, teori ekonomi & paradigma pembangunan mendasarkan falsafah alam: Ekonomi yang Menjamin Keseimbangan Ekosistem (termasuk manusia-masyarakat untuk bertahan hidup dan maju !). Better late than never. Kami galang ekonomi hijau, dengan Visioner Hutan Mini dan Kebun Mini. Bibit tanaman kami usahakan secara “self Financing”. Kami juga hasilkan produk “Kerajinan” berupa meja Solid dari pohon budidaya: kayu Mahoni, Jati, Mangga dan kayu Duren (Bukan Kayu Hutan). Apabila anda tertarik, call me dan dukung kami !!. Kami men-desain, membuat, mengukir Karya Meja Solid sebagai Usaha Halal untuk Greenomics.


The Aristokrat Solid Table and Greenomics.


Sunan Mursyid 0812 10 266 099



Sabtu, 08 November 2008

Karya~Industri Batik Kita




KELEMBUTAN KARYA BUDAYA JAWA
MENGHADAPI GEMPURAN & PENGINGKARAN:
KASUS: Industri BATIK & KAYU di Jawa

(Sunan Mursyid)


Falsafah budaya Jawa, yang diresapi dan membentuk karater manusia-masyarakat Jawa telah melahirkan sosok peradaban masyarakat yang memiliki kearifan hati, keluhuran budi dan keteguhan jiwa yang memberikan keberkahan hidup, dalam kiprah dari hari ke hari ~ hasil mengolah sumber daya alam dan bahan industri ~ menjadi kerajinan batik (membatik) dan kerajinan kayu (nyerut, ngukir, mahat dan nyetel). Falsafah Jawa yang bernuansa kelembutan itulah, yang kini menjadi tonggk penghidupan – dan suatu gumpalan industri unggulan yang telah memberikan contoh peradaban yang maju. Meskipun kemajuan peradaban itu telah diingkari-dikhianati secara terencana-sistematis dalam masa Orde Baru, kearifan dan keteguhan jiwalah yang tetap menjaga kedua industri kayu dan batik mampu bertahan dan maju.

Kita dengar keseharian nasehat para orang tua pada anaknya, Le, gemi setiti ati-ati (Nak hemat dan hati-hati), Alon-alon waton kelakon (pelan-pelan asal berjalan), Becik ketitik Olo ketoro (baik-benar tertandai, salah-jelek akan kentara-jelas), Ojo dumeh (jangan sombong), gawean kudu ditresnani (pekerjaan harus diresapi-disenangi) adalah kata-kata singkat pesan yang membentuk watak pada anak, dengan contoh nyata yang diberikan. Kain batik yang kini menjadi kebanggaan kerajinan nasional, adalah hasil perpaduan seni dan industri, yang dimulai dari :
* Penggambaran sketsa desain (motif) oleh seni rupa tangan pensil diatas kain
(mori), bermotifkan nuasa alam daun, bunga atau l;ingkungan sekitar,
* Penulisan atas motif diatas kain dengan Canting (alat pelukis diisi cairan
malam (bahan lilin) panas-encer, atau dengan cara diCap yang telah dicetak dari tembaga, untuk menutup motif yang dibentuk dari proses pencelupan,
* Pencelupan (medel) kain yang telah di cap atau dicanting dengan air dan bahan
pewarna yang dipanaskan, untuk mewarnai bagian yang tidak tertutup,
* Pengeringan dan pengerokan (pengelupasan) malam yang melindungi. Proses
diulangi dengan
penutupan lilin untuk motif lagi dan pencelupan berikutnya.
Proses diatas dilakukan secar cermat, pelan-pelan rutin dari pagi hingga sore hari, yang dilakukan oleh wanita (ibu-ibu) untuk Pencantingan ~ sambil mendengarkan tembang-tembang Jawa atau cerita Ketoprak sebagai inspirasi yang menjiwai kain batik. Pencelupan (pewarnaan) oleh pria. Untuk bahan kain ukuran lebar 110 cm dan panjang 200 cm, memerlukan waktu proses hingga 15-20 hari, tergantung pada kerumitan motif, kombinasi warna dan kehalusan gambar. Hasil penjualan kain batik dengan proses tangan (penulisan tangan) yang rumit dan sangat halus dengan bahan sutera bisa mencapai Rp.7–20 juta. Sedang dari bahan kain katun primisima, dapat mencapai Rp.2-5 juta. Ketekunan proses setiap hari dari buah kreasi seni, kerja fisik dan proses industri inilah yang menghasilkan produk kain batik berkualitas ~ yang digandrungi di berbagai negara. Budaya gemi-setiti (hemat & teliti) selain diterapkan dalam membatik, juga menabung sedikit demi sedikit, yang berlangsung setiap hari. Hasilnya, secara pelan dan pasti, muncul pengusaha-industri batik yang cukup tangguh di Solo, Yogya, Pekalongan dll.

Industri kerajinan kayu (ukir-pahat) di Jawa telah melahirkan peradaban masyarakat pengarjin kayu yang terkenal dengan hasil Ukir-ukiran & pahatan di Jepara. Filofofi sederhana dalam hidup keseharian dan proses pembuatan dilakukan secara teliti, dari pemilihan bahan kayu (Jati), pembelahan, pemotongan, pengambaran motif, dan pengukiran serta penyetelan hasil ukir-2an. Hasil kerjainan kayu Jepara yang tergolong paling rumit adalah Relief ~ berupa ukir-2an berbentuk 3 dimensi, yang biasanya bermotifkan perang Bratayuda, Arjuna dlsb yang diambil dari cerita pewayangan. Proses ketekunan, desain, mengukir, menyetel, mlitur (finishing) inilah yang menjadikan ukir-ukiran kerajinan kayu memberikan hasil yang penuh berkah bagi msyarakat Jawa, di Jepara, Solo, Kudus, Yogya, Banyuwangi dll. Khusus Jepara, hasil ekspor industri kerajinan kayu ke manca negara telah melebihi Rp. 1 triliun setiap tahun.

Curahan ekspresi dengan penuh kelembutan sepenuh hati, dalam melaksanakan kerja, menikmati hidup dari hasil kreasi dan keringat, memberikan atmosfir & nuansa kehidupan yang sungguh nyaman. Uang sepenuhnya dari hasil inilah yang memberikan jiwa Arif masyarakat Jawa, sehingga berkomunikasi dan ngobrol pun terasa lebih hidup.

Gambaran dalam 2 (dua) masyarakat Batik dan Pengrajin Kayu diatas, mengalami pertempuran hebat dengan masuknya Perusahaan dengan kekuatan Kapital, baik di Solo-Yogya-Pekalongan dan Jepara. Di Jepara, perusahaan besar dengan dukungan modal dari Italia, Korea Selatan, Singapura dan Belanda, sangat ramai masuk dan menyedot pekerja / pengrajin lokal Jepara. Demikian pula di Solo, pengrajin batik banyak disedot dan dijadikan “pekerja” atau buruh. Bahkan pada masa 1975 –1980 Industri kerjaninan Batik mengalmi tekanan “persaingan yang sangat tidak adil” oleh Kebijakan Pemerintah: Pembatasan kredit bank hanya Rp.50 juta, dan tekanan diberlakukan Pabrik Batik Cetak (Printing) dan pengadaan seragam sekolah & pegawai negeri (korpri) pada beberapa industri batik Non-Pri dalam jumlah besar. Konyolonya, Pak Harto dan Ibu Tien adalah putra-putri kelahiran Solo, justru kurang melindungi. Akibatnya, jumlah pengrajin dan industri batik menurun drastis, kios Pasar Klewer Solo sebagai kebanggaan pasar Batik terbesar di Jawa banyak yang dijual ke warga Non-Pri, banyak pengrajin tulen berpindah profesi jadi pekerja (buruh). Demikian pula industri-pengrjin kayu Jepara, menghadapi tekanan-persaingan dari perusahaan besar dengan kekuatan modal besar & jaringan pasar. Pemerintah dalam masa Orba, Habibie, Gus Dur dan Mega pun tidak menunjukkan komitmennya dalam melindungi apalagi membesarkan mereka sebagai pribumi Indonesia (pengkhianatan). Manakala kita bicara pribumi atau membahas pribumi dalam dialog-seminar dituduh melanggar SARA oleh Pemerintah, pakar sesat dan bahkan media pers (Suku agama ras & antar keturunan), padahal kebijakan yang dilakukan dipenuhi SARA ~ ibarat Maling teriak maling.

Matikah industri Batik dan Pengrajin Kayu di Jawa oleh pengkhianatan tersebut ?. Sejatinya falsafah Jawa dalam peradaban yang memperoleh keberkahan itulah yang melindungi dan menjaga, eksistensi dan kelestariannya.

Kajian ringkas diatas, haruslah memberi gambaran tentang pengingkaran bagi kaum generasi muda dan pribumi untuk sadar dan menggalang kebangkitan, untuk mengambil langkah memperjuangkan Hak-hak warga Pribumi dan mengawasi Pemerintah-Legislatif dalam memegang Amanat Rakyat dan Kewajibannya pada pribumi – yang pada akhirnya adalah Wujud Hakiki dan Tanggung Jawab Pemerintah pada rakyat. Kaum muda mari berjuang secara kompak untuk kemajuan kaum pribumi.

Selasa, 04 November 2008

SOLAR ENERGY for SUSTAINABLE POWER GENERATION










Solar Energy Power Generation is The Solution

Here we provide the solar energy power generation, built in mountain village "Pringsewu-Pacitan" (The Village of the Mother of the President of Indonesia, Soesilo Bambang Judoyono), provided by The Ministry of Energy & Mineral with cooperation with PT.Altari Energy.The Power House System developed is the first, generating 17 kva electricity, capable to provide for 126 houses (family). Each family benefits for lighting, watching television, and tape/radio. This is one of next solution for Sustainable Power Generation facing the scarcity & costly of gas & oil in the world. PT. Altari (Alhamdulillah ada Matahari ~ Thanks God, YOU give us The Sun) is The Indonesian Company, dedicated for Green Economy.




Senin, 20 Oktober 2008

COPORATE CULTURE ENVIRONMENTAL RESPONSIBILITY (CCER)

Perusahaan Peduli lingkungan dan perbaikan alam
Tim Ahli LSDP

A.Latar Belakang
Kerusakan alam, pemanasan global, menipisnya sumber daya alam adalah gambaran suram Indonesia sehingga seluruh fenomena diatas apabila direnungkan bisa dipandang sebagai hukuman atas sunatullah atau hukum alam, akibat ulah manusia, masyarakat, Pemerintah dan Bangsa Indonesia.
Kerusakan alam dan serangkaian bencana kini telah memberi gambaran tentang ancaman baru terhadap kelangsungan usaha sehingga menambah buruk terhadap ancaman investasi dan usaha hampir di seluruh wilayah Indonesia. Akibatnya, Indonesia menjadi Negara yang memiliki daya tarik rendah untuk investasi atau memiliki tingkat feasibility rendah.
Begitu luasnya kerusakan alam Indonesia yakni hutan, mangrove, terumbu karang dlsb, kini strategi dan program dan usaha perbaikan kerusakan alam, akan sangat sulit dilakukan hanya dengan mengandalkan kebijakan Pemerintah dan program pembangunan oleh Departemen teknis cq.Kehutanan.
Mengingat besar, luas dan parahnya kerusakan, maka usaha usaha perbaikan dan menjaga kelestarian alam kini sudah harus melibatkan seluruh elemen masyarakat, Pemerintah, dunia usaha dan rakyat keluarga secara luas. Misal, bencana dan ancaman banjir terhadap Jakarta, disebabkan antara lain, wilayah latar,belakang Jabodetabek gundul dan catchment area menipis, sungai mendangkal dan pengotoran sampah.
Mengingat makin melemahnya standard hidup masyarakat golongan ekonomi lemah, maka diperlukan kepedulian nyata dari kalangan badan usaha untuk mengatasi kerusakan alam dalam kerangka kepedulian badan usaha terhadap perbaikan alam. Situasi bangsa negara yang kini menghadapi bencana bertubi tubi, sudah saatnya mengalihkan orientasi atau membagi perhatian dari kesenangan golf, piknik dlsb, kearah yang lebih bermanfaat pada lingkungan, tanpa mengurangi rasa kesenangan tingkat manajemen dan pegawai insan usaha.
B. COPORATE CULTURE ENVIRONMENTAL RESPONSIBILITY
CCER adalah visioner yang dilahirkan oleh LSDP, dengan penggagas Mursyid dan GPJ yakni, Badan Usaha memiliki tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, mikro dan makro. Tanggung jawab langsung adalah dampak negative langsung keburukan atas usaha atau operasi. Sedangkan kepedulian adalah inisiatif atau prakarsa dan keterpanggilan dalam perbaikan alam yang rusak yang secara makro berpengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap masyarakat bahkan peradaban masyarakat sekitar.
Bentuk CCER dapat direalisasikan dalam tingkatan program aksi sebagai berikut,
a.Campaign penyadaran masyarakat dalam memelihara dan perbaikan alam sekitar, dalam
membangun budaya masyarakat yang sadar lingkungan,
b.Program aksi, sebagai percontohan langsung perbaikan alam sesuai dengan prioritas kerusakandan alam dan ancaman terhadap peradaban masyarakat.
c.Perbaikan visi usaha yang dijadikan komitmen Badan Usaha, sehingga menjadi motor penggerak secara sistemik, signifikan dan meluas.
d.Kebijakan usaha yang menempatkan kepedulian dan tanggung jawab Badan Usaha secara Luas dan Nasional.
C. Misi dan Tujuan CCER
Membangun kesadaran dan budaya sadar lingkungan atau environmentalist dalam insan pegawai dan keluarga serta Badan Usaha Milik Negara, untuk usaha perbaikan alam yang rusak dan menjaga kelestarian, sehingga kesadaran tersebut membangun budaya bagi masyarakat luas secara sistematik dan luas dan sebagai bagian masyarakat umum.
D.Prioritas Tantangan dan Masalah
Menghadapi sangat luas dan beratnya masalah kerusakan alam di hampir seluruh wilayah Indonesia, maka prioritas tantangan masalah dilakukan menurut tuntutan masalah yang dihadapi sbb,
Way of Life, Budaya dan Sikap Hidup, Pendidikan dan Sikap terhadap Lingkungan.
Masalah, a. Budaya,Keserakahan, ceroboh, individualis, jorok,
b.Pendidikan, Minimnya pelajaran lingkungan, pemeliharaan dan konservasi alam,
c. Sikap thdp Lingkungan, minim lahan hijau perkotaan, penghancuran hutan, hancurnya hutan bakau dan rusaknya pantai dan perusakan dan pengotoran sungai.
Perbaikan dan Agenda yang Harus dilakukan,
a.Budaya, CAMPAIGN Peduli LINGKUNGAN.
b.Pendidikan, EKSTRA KURIKULER PEDULI LINGKUNGAN, Visioner Greenomics.
c.Fisik alam,
Perkotaan, Reboisasi Hinterland dengan Kebun Mini dan Hutan Mini,
Hutan, Stop Illegal Logging, Penguatan prosesing kayu jadi Meubel dan pemasyarakatan visioner hutan mini serta upaya Konservasi,
Sungai, Campaign Pemeliharaan dan Reboisasi Derah Aliran Sungai,
Pantai, Reboisasi dan Konservasi dengan Mangrove.
E. START IGNITION dan PINTU MASUK
CCER BUMN dapat mendukung penanganan masalah krusial kerusakan alam dan lingkungan dengan dimulai yang bisa dilakukan dengan dampak positif yang besar meliputi 5 agenda program aksi sbb,
1. CCER yang berdimensi meredam kerusakan hutan dan peningkatan Value added, yakni unit
usaha atau BUMN mengolah hasil hutan kayu di Papua, Kalimantan dan memperdagangkan
ke pasar potensial, Sehingga memperoleh nilai tambah besar daripada menjual kayu bulat.
2.CCER yang berdimensi penyelamatan flora langka yang berdimensi pada penyelamatan dan
pembangunan citra BUMN atau Pemerintah positif dimata internasional. Misal dengan Pemasyarakatan penanaman pohon langka Ebony, Ulin, Ramin.
3.CCER yang berdimensi pada perbaikan alam untuk perlindungan kota, dengan gerakan
reboisasi wilayah hinterland. Misal, dengan program SAFE JAKARTA, setiap Unit usaha
BUMN mulai menggerakkan karyawan dan keluarga dengan reboisasi masing-masing di suatu
desa 100 ha, dan selanjutnya dijadikan daerah hutan mini dan sbg daerah binaan. Program ini
bila dilakukan oleh ratusan perusahaan swasta di Jakarta, bukan hal yang sulit menghijaukan
hinterland Jakarta seluas 2.000 hingga 5.000 ha atau 20 HINGGA 50 km2.
4. CCER BUMN yang berdimensi pembangunan budaya bangsa yang menjaga perusakan alam dan menjaga kelestarian alam. Program gerakan aksi campaign budaya kebersihan dan pembentukan klub klub Environmentalist dalam lingkungan karyawan dan keluarga BUMN akan memberikan dorongan yang berarti pada masyarakat luas, daripada kegiatan golf yang mahal dan asing bagi masrakat luas dan tidak memberi kontribusi pada lingklungan.
5.CCER BUMN yang berdimensi bagi pembangunan visi Wise and Smart to manage Natural Resources yang akan memperbaiki kelemahan mendasar bangsa dalam mengolah sumber sumber alam (hutan dan mineral). Program aksi demikian dapat dilakukan dengan Lomba Visoner Pengolahan hasil Hutan dan Pameran Khusus atau Lelang hasil Karya masyarakat dari hasil tanaman budidaya yang bernilai tinggi.
F. MANFAAT CCER dan PEMBANGUNAN BUDAYA
Culture Corporate Environment Responsibility pada hakikinya adalah pembangunan siikap, dan tindakan insan manusia yang peduli, sadar dan selanjutnya terbangun budaya dalam memelihara alam sekitar kehidupan kita. KepeduliIan ini memiliki keniscayaan, alam sekitar kita yang memberi sumber penghidupan senantiasa memberikan daya dukung dan kemanfaatan secara terus menerus pada kita dan generasi selanjutnya. CCER bisa diartikan sebagai respons nyata atas berbagai bencana selama ini yang sudah mengancam kehidupan dan bahkan peradaban masyarakat bangsa.
CCER dapat dimulai dari kemauan individu individu yang dikelola secara kolektif, dengan dimulai usaha aksi nyata, yang selanjutnya dapat direncanakan sebagai bagian komitmen usaha dalam badan usaha. Kemauan, komitmen dan langkah nyata individu demikian akan membangun budaya terhadap masyarakat luas dalam memelihara alam sekitar. Kepedulian terhadap lingkungan dan alam sekitar demikian, niscaya akan melahirkan dampak positif besar mendatang, antara lain, yakni kemanfaatan langsung dan tidak langsung yang luas, baik terhadap invidu, usaha dan masyarakat. Kemanfaatan yang urgent kita butuhkan kini adalah perlindungan alam pada kita, bukan kemarahan atau bencana alam.

Minggu, 19 Oktober 2008

KERJASAMA Greenomics ESC-LSDP dengan DHARMA WANITA DEPKEU RI


AGENDA GREENOMICS....1
REBOISASI KAWASAN PUNCAK
Sunan Mursyid & Gatot Permadi Joewono.


Thanks Sobat ! itu yang patut disampaikan pada "mas Tonny Sumartono" (feui-79). Setelah kami kirimkan VCD awal tentang Greeenomics dan proposal Pendirian Institut Konservasi Alam (IKA), rupanya diputar juga VCD tsb. VCD itu adalah semacam Campaign untuk membangun Ekonomi Hijau Kerakyatan, yakni ekonomi yg mengolah "alam secara bijak" yg akan memberikan "kemanfaatan sosial, ekonomi & lingkungan" secara sustainable. Jadi bukan sekedar Reboisasi, meskipun reboisasi juga baik. Greenomics...ibaratnya Reboisasi dengan keunggulan "bangkitnya" roh sosial masyarakat dalam menanam, memelihara, memetik hasil, memperoleh manfaat, memberi dampak positif pada lingkungan dll. Berikut petikan singkat tanggapan sobat mas Tonny:

"Mursyid, boleh juga eloe bikin campaign, hanya...eloe cara menerangkan anggap gua goblooook bener. Tapi bagus juga yach" (TS).

"Fren..mas Tonny, yang penting kan niat tuluss, aspek kemanfaatan. Maklumi, persiapan syuting 1 jam, tanpa manuscript... langsung start." (SM)

"Lokasi dimana tuh dan eloe bibitkan pohon apa saja?" (TS)

"di rumahku dan di Nursery 2 ha yang kubina. Ada bibit Matoa, DUren, Kecapi, Mahoni, Jati... dan juga pohon Quldy. Aku punya sekitar 15 ribu pohon" (SM)

"bagus juga untuk start awal.. oke deh Syid, ntar kita lanjutin" (TS).


Seminggu kemudian, Tonny telpon, "Syid gue mau pesan 1.000 pohon. Gue ajak ya ke Puncak, liat lokasi lahan kritis". Hari Jumat kami berangkat, tinjau 2 lokasi lahan, ketemu Pak Badri (penerima Kalpataru). Dan hari itu Jumat malam, hatiku gundah dan berfiikir kok Tonny "care" banget ya, seharian tinjau lahan-2 kritis sampe Magrib. Sekitar jam 12 malam kuterima pesan "ibunda Sri Mulyani" (mertua mas Tonny) berpulang ke Sang Khalik. Smoga Khusunul Khatimah!.


Seminggu kemudian, kukirim 1.250 bibit pohon (Matoa, Kecapi, Mahoni, jati), 250 sebagai cadangan untuk penyulaman. Ibu-2 masih manambah dengan 2.000 pohon Cengkeh. Waktu pengiriman, rombongan sekitar 20 orang Ibu-2 Dharma Wanita, dipimpin Ibu Mulia P.Nasution (ketua DW-Depkeu) sudah di Lokasi. Seharian penuh di Puncak hingga malam. Boleh juga semangat dan kesungguhan Ibu-2 dari DW-Depkeu. Pohon harus didistribusikan secara benar, ditanam, dirawat.....hingga Besar untuk agenda SAFE JAKARTA.

ITU ADALAH AWAL dari agenda Greenomics...yang memperoleh sambutan: Tanam Pohon Buah atau tanaman keras yg memberi hasil: Manfaat.

Thanks Sobatku.... We Support You !. Environment Smart Centre -LSDP siap menyukseskan misi mulia mu. Ku siapkan 1.000 pohon lagi free !! Hanya please think for Transportation, Pupuk, Penanaman dan Perawatan.

Warms Regards !!.