Kamis, 08 Januari 2009

Rain and melting snow bring floods to Washington

INI LOH...ANCAMAN GLOBAL WARMING !!
SNOQUALMIE, Wash. – More than 30,000 people were urged to leave their flood-endangered western Washington homes as swollen rivers, mudslides and avalanches engulfed neighborhoods and roadways.
Rising waters led state highway crews to close a 20-mile stretch of Interstate 5 around Chehalis on Wednesday evening. The state's three major east-west routes across the Cascade mountains also were closed by avalanches and the threat of more slides.
Highway officials hoped to reopen one main east-west route sometime Thursday — likely Interstate 90 across Snoqualmie Pass — "to get people moving and freight moving and supplies moving," said Transportation Department spokeswoman Alice Fiman.
The National Weather Service issued flood warnings for about two dozen rivers in western Washington and Amtrak passenger train service out of Seattle was suspended due to mudslides.
Fire trucks rolled through Orting, about 10 miles southeast of Tacoma, with loudspeakers Wednesday, advising everyone to leave the town and surrounding valley, home to about 26,000 people. Sandbags were placed around many downtown homes and businesses as the Puyallup River neared record levels.
Kim and Carl Scanson closed their Around the Corner restaurant when Orting police told them of the recommended evacuation. They sent employees home to care for their families.
"It's scary, but everybody works together in this town," Kim Scanson told The News Tribune as she helped pack sandbags around the city's water treatment plant.
Some residents also left their homes in the nearby towns of Puyallup and Sumner. Fife Mayor Barry Johnson suggested roughly 6,000 people voluntarily leave their homes in that city near Tacoma and Interstate 5.
Tacoma Mayor Bill Baarsma declared a civil emergency for his city of about 200,000, south of Seattle, largely because of Puyallup River flooding risks to the city's wastewater treatment plant. State emergency officials said voluntary evacuations were recommended for Snoqualmie, a riverside town 25 miles east of Seattle, and for the southwest Washington cities of Naselle, Packwood and Randle.
The Snoqualmie River at Carnation, in the rural Snoqualmie Valley, was measured at 61.3 feet Wednesday night, 7.3 feet above flood stage and a record for measurements kept since 1932, weather service meteorologist Jay Albrecht said.
Meteorologist Andy Haner said warmer temperatures and heavy rains were melting snow that was dumped on the mountains during a weekend storm, with 10 inches of snow melting in a 12-hour period at Snoqualmie Pass.
Rainfall totals for the 24 hours ending at 11 p.m. Wednesday included 6.86 inches at Marblemount in the Cascade foothills east of Mount Vernon; 5.85 inches at Glacier, near Mount Baker; and 6.3 inches at Snoqualmie Pass.
In Orting, several dozen people and a number of pets were rescued by boat Wednesday morning, Pierce County sheriff's spokesman Ed Troyer said.
Diane Knowles of Eatonville said those rescued included her 81-year-old father-in-law and her brother- and sister-in law, who in past flooding arranged for the family to bring rescue boats.
"It came up so fast this time, there wasn't really time to think about it," she said.
An avalanche of snow and mud about 100 yards wide damaged some weekend recreation homes in the Hyak area east of Snoqualmie Pass. All homes at Hyak and condominium complexes at the base of the ski area were evacuated.
The debris field spanned eight houses, including one that was severely damaged, and two occupants of that home were treated for minor injuries, said Matt Cowan, chief of Snoqualmie Pass Fire and Rescue.
Chris Caviezel, who has lived at Snoqualmie Pass for about seven years, said conditions were the worst he has seen. "We're getting avalanches and we're being flooded," Caviezel said.
In Snoqualmie, kayakers paddled in the street as city officials urged residents in the flood plain of the Snoqualmie River to leave before they became trapped.
Rachel Myers stood across a flooded parking lot from her home and waited for her father to pick her up in a boat. She said her family has lived in the house since her great-grandmother built it, but they've decided this will be their last winter there.
"With flood after flood, it just gets more ruined every time," Myers said.
In the east, Spokane, already beset by more than 6 feet of snow in the past three weeks, was hit with rain and temperatures in the mid-40s, triggering a flood warning for the area. The city's schools were closed Thursday, giving its 29,000 students a third unscheduled day off this week.
In Oregon, high winds toppled trees along U.S. 26, forcing the highway's closure and stranding some motorists while crews worked to clear the road. The weather service posted flood warnings for areas along several rivers and a flood watch for all of northwest Oregon.
In Alaska, extreme temperatures — 60 below zero in Stevens Village, which is about 90 miles northwest of Fairbanks — have grounded planes, disabled cars, frozen water pipes and even canceled several championship cross country ski races.
___
Associated Press photographer Ted Warren in Orting and AP Writers Doug Esser and Tim Klass in Seattle contributed to this story.

Jumat, 02 Januari 2009

Dengan DURIAN & MAHONI Membangun Jawa Barat !!


Sebuah Respon Serius Visioner Greenomics-3
dari Wakil Rakyat "Hbib Sayuti Asyathri"
Kecintaan Habib Sayuti Asyathri pada Jawa Barat, dari tersentuhnya hati nurani pada "Kesuburan tanah Jawa Barat dan Keramahan masyarakat yg harmonis & agamis", namun kurang memberi dukungan kesejahteraan, apalagi kemajuan riil ekonomi, khususnya di pedesaan. Setelah memahami Filosofi mendasar ttg Ekonomi Hijau, khususnya Kebun Mini dan Hutan Mini, Habib keturunan Ambon ini tergerak untuk "men-dinamisir" wilayah Sukabumi dan Cianjur dengan menanam Ribuan Pohon Mahoni. Jati, Alpokat dan ribuan Duren. Mengapa?.
1.Jati & Mahoni, akan menghasilkan kayu untuk dukungan industri meubel, yang kebutuhannya ratusan ribu m3 untuk pasokan ke Mancanegara, selain fungsi lingkungan. Pohon sudah bisa ditebang mulai pada usia 6-8 tahun
2. Alpokat dan Duren, akan menghasilkan buah Duren yang harum, berarti memberi penghasilan rutin dari penjualan buah duren. Setelah pohon berusia 9 tahun, pohon duren bisa memberikan kayu jenis Meranti, yang kini pasokan dari hutan alam/ produktif mulai dihentikan.
Dari pengamatan fakta Krisis pada 1997-1998: Wilayah Pedesaan yang menghasilkan Buah & Sayur serta Kayu, sangat minim terimbas Krisis. Bahkan jadi Penyelamat. Nah Pola ini yg mestinya dipacu dan digencarkan.

Dalam masa waktu 5-9 tahun itulah, ribuan-puluhan ribu pohon memberi kemanfaatan ekonomis-lingkungan dan sosial nyata. Dan Habib satu ini (salah satu Wakil Rakyat yg gigih MENGGOLKAN 70 ribu GURU BANTU HONORER MENJADI PEGAWAI NEGERI SIPIL) keturunan Ambon, benar-benar ingin memacu TRANSFORMASI SOSIAL RAKYAT DESA, menggapai kemajuan ekonomi dengan Industrialisasi yg terkait Pertanian, Perkebunan & Kehutanan. Mungkin jiwa "merakyat" ini didasari dari tanah leluhurnya di Pulau GESER yang Nelayan dan Petani. Selain itu, kegelisahan Habib ini dengan "Mobilisasi para Ibu-2 dan Bapak-2" di wilayah Cianjur & Sukabumi yang bekerja ke Luar Negeri (TKW & TKI) ~ SEDANGKAN TANAH CIANJUR & SUKABUMI SANGAT SANGAT SUBUR"!. Sementara PT.Perhutani setempat kurang memiliki "Hubungan yang bisa memajukan Masyarakat setempat. Mantan Perdana Menteri Thailand saja bisa merubah Muangthai: Through Durian Montong to The World dan merubah Citra dari Negeri Wisata sex menjadi Negeri dg Unggulan Buah-2an.
********************
Menyentuh juga ya uraian Habib ini, apapun alasan Beliau untuk melakukan "Greenomics" untuk tujuan Mulia... Patut diacungi Jempol !. Green Actions...for Greenomics. Ekonomi Ekosistem yg Menjamin Keberlangsungan Pembangunan. SEMOGA BERHASIL Ajengan Hb.Sayuti !!

Jumat, 19 Desember 2008

KERJASAMA GREENOMICS-2 DG Ir.Sayuti Asyathri..SOHIB LAMA


TELPON BERDERING....
Kuangkat telpon dari sohib lama..Ir.Sayuti Asyathri, sering kupanggil Bib Sayuti
"Mursyid, ada bibit pohon apa saja ? di rumahmu" dari Perdatam, Bib Sayuti menyapa
"Yaaa Bib...ada Mahoni, Duren, Matoa, Kecapi dll", tinggi sudah 40cm up. Ditanam dimana Bib?" tanyaku, pada Habib Sayuti..
"di Gunung-gunung, Sukabumi.. tapi nanti tolong anda kawal ya Penanaman dg Masyarakat. Ada berapa pohon ?" minta Bib Sayuti,
"Oke Bib...ada sekitar 5.500 pohon.. Siap .harga murah, aku kasih bonus Pupuk Kandang 2 ton. Biar tanaman hidup segar. "sejenak kugeser tempat sinyal lemah
"Baik Syid...pohon yang bisa hasilkan buah dan atau kayu bagus. Masukin web mu
tapi harganya yang murah Syid". Sayuti nambahin,
"Okelah Bib..sudah nasib UKM sulit untuk jadi besar & kaya... he he. Kapan mulai tanam?" tanyaku
"nanti kutelpon lagi ya "Habib Sayuti nambahkan
Yah baguslah... seorang wakil rakyat, sahabat lama dan tokoh oposisi yang hendak me-Makzulkan SBY gara-gara PilGub Maluku Utara tergerak untuk mendukung Greenomics ku. KUTUNGGU BIB...!

Kamis, 11 Desember 2008

VISIONER KERETA API INDONESIA (KAI)


Keharusan Perubahan Mendasar :
Untuk Mampu Memenuhi Tuntutan Kebutuhan / Kemajuan Zaman
Sunan Mursyid Santoso


LSDP menurunkan Visioner usaha Kereta Api Indonesia, mengingat perjalanan bangsa-negara Indonesia sejak merdeka hingga kini (62 tahun), KAI belum menunjukkan kemajuan yang berarti dibanding kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan penumpang, kemajuan teknik dan kemajuan usaha. Padahal Kereta api adalah angkutan massal yang sangat efisien, dibanding masalah menipisnya sumber Bahan Bakar Minyak nasional untuk moda transportasi lainnya. Sehingga citra latent KAI adalah waktu tempuh lama (kurang maju) selalu merugi padahal penumpang berjejal penuh sesak dan rawan kecelakaan.

A. LATAR BELAKANG
a. Permintaan untuk angkutan massal yang memadai & cepat semakin besar dengan jumlah kebutuhan mencapai 150 juta penumpang tiap tahun, dan permintaan angkutan barang yang makin besar,
b. Di Pulau Jawa, ketersediaan angkutan darat, udara, laut semakin sulit terpenuhi sejalan dengan penambahan jumlah penduduk & penumpang yang semakin besar, serta biaya (cost) yang mahal untuk BBM. Untuk wilayah Jabodetabek, angkutan kereta api, harus mampu memenuhi commuter yang menghubungkan DKI-Jaya dan 5 kota sekitar yang diperkirakan akan mencapai 5-10 juta tiap hari pada 2010 hingga 2020. Sedang untuk wilayah Jawa, harus memenuhi penumpang mencapai 150-200 juta juta penumpang tiap tahun, dengan tingkat kecelakaan minimal dan menguntungkan (tidak rugi yang selalu disubsidi Negara).
c. KAI memiliki kelemahan mendasar & fundamental yang harus melakukan perubahan mendasar sebagai KENISCAYAAN yang harus dijalani untuk menjawab tantangan yang besar di atas, sehingga KAI bisa lepas dari kondisi GERBONG TUA YANG BERJALAN DIATAS REL TUA, DIKELOLA OLEH ORGANISASI / MANAJEMEN KUNO, SEHINGGA RAWAN KECELAKAAN, ANJLOK & PENUH SESAK dan MERUGI.

B. PERUBAHAN-PERUBAHAN MENDASAR
Untuk memenuhi tuntutan besar sebagai konsekuensi kemajuan jaman, KAI harus melakukan perubahan yang sangat mendasar, yang meliputi Visi Usaha Per-kereta apian dengan berbagai dimensi usaha, Perubahan Organisasi KAI sesuai dengan Visi dan Dimensi usaha, Strategi & Pentahapan perubahan, Perubahan Strategi Kapitalisasi untuk pembangunan & Usaha serta Pelaksanaan Rencana Urgent Jangka Pendek-menengah. Perbaikan dan pembangunan KAI yang dilakukan secara gradual (marginal improvement) dengan sistem tambal sulam (setapak) justru akan menjebak KAI dalam masalah yang lebih kompleks. Tantangan yang harus dijalani kini adalah mempersiapkan Kerangka / Tatanan Perubahan Mendasar, dan setelah Tatanan baru yang dipersiapkan diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan hingga 50 tahun mendatang, adalah mengganti / merobohkan organisasi-tatanan-sistem yang selama ini berjalan (prepare new system, applying & demolishing old system).

B.1. Perubahan Visi Mendasar KAI serta Dimensi Usahanya
Menyikapi KAI adalah badan usaha sementara prasarana rel kereta api dibangun oleh Pemerintah (Departemen Perhubungan), dan organisasi-system KAI masih berdasarkan paradigma lama (organisasi kuno) yang sulit merespons tuntutan permintaan dan kemajuan jaman, maka KAI harus melakukan mempersiapkan dan merubah VISI Usaha yang mampu memenuhi / merespons kebutuhan hingga 50 tahun kedepan, dengan 4 sifat yang harus diemban: makin maju (cepat & aman), makin untung (value added centre), responsif-akomodatif peran swasta dan minim kecelakaan. VISI Usaha KAI sudah saatnya mampu merumuskan Koordinasi-Sinkronisasi yang selalu “TUNNING-IN” dalam 3 bidang usaha, yakni : Usaha Prasarana Rel, Usaha Carrying Penumpang (Loko-gerbong), Usaha Pelayanan Stasiun & Property dan Kebutuhan Modal (Kapitalisasi) untuk pembangunan. Kendala UU atau Aturan yang mengekang usaha KAI untuk maju, harus direspons dengan Penyiapan Perumusan UU & PP yang tunning-in dengan Visi Usaha KAI tersebut. Adapun perubahan Visi usaha KAI dapat dirinci sbb:

a) Visi Prasarana Rel Kereta Apiserta Tantangan 50 tahun,
b) Visi Industri Pengangkutan (Carrier) & Dimensi Usahanya: KAI dan Swasta,
c) Visi Stasiun & Dimensi Usaha Industri Property (Mall, Hotel, Apartment, Pergudangan),
d) Visi Industri Lokomotif & Gerbong dan Usaha Perbaikan & Spare-parts,
e) Tunning-in Organisasi Perusahaan Anak KAI & Perubahan UU Yang Dibutuhkan
f) Visi Kapitalisasi & Akomodasi peran swasta (merubah dominasi usaha) yang mampu menjawab ad.a s/d ad. d
g) Perubahan UU & PP Yang Dibutuhkan Untuk Pemenuhan Visi ad.a) s/d f).

Penyiapan VISI Usaha KAI diatas, dapat diibaratkan sebagai penyiapan infrastruktur Organisasi-System yang baru, untuk mengganti organisasi-sistem yang lama. Selanjutnya, tantangan berikutnya adalah bagaimana strategi dan pelaksanaan rencana bertahap. Sistem Organisasi KAI yang selama ini “vertically integrated” telah terjebak dalam kelemahan-kerapuhan (sdm, modal, teknologi, sistem manajemen) yang mengakibatkan unit-unit kegiatan mencipatakan “cost-centre” dan kebocoran dengan hasil akhir kerugian. Akibatnya KAI sulit merespons permintaan yang sangat-sangat besar masyarakat. Kendala UU dan Peraturan yang mengekang KAI menambah kelemahan mendasar dalam meraih peluang untuk menambah Kapitalisasi untuk pembangunan rel, menambah loko-gerbong, utilisasi asset lahan untuk property dlsb. Apabila kita menyaksikan pelayanan KRL-Jabotabek sehari-hari: sungguh sangat menyedihkan: ratusan orang berjejal penuh sesak dalam tiap gerbong, dan mengabaikan potensi puluhan –ratusan ribu penumpang tidak terangkut~~ Ironis dengan angkutan Metro Mini, Sopir-kenek sering konflik hanya memperebutkan 1-2 penumpang!! Padahal Pemda DKI-Jaya niscaya berminat bila diajak dalam anak perusahaan KAI untuk melayani jutaan warganya yang menggunakan KRL. Demikian juga Pemda Jabar, Jateng, DI-Yogya dan Jatim serta Banten.

B2. Pelaksanaan Rencana Bertahap
Setelah Kerangka/ Tatanan Mendasar ditetapkan dengan payung hukum yang jelas dan sesuai dengan yang dibutuhkan, Tahap selanjutnya meletakkan-melaksanakan Strategi dan Rencana bertahap. Pentahapan pelaksanaan mendasar adalah menetapkan induk dan memecah organisasi / anak unit usaha dengan basis orientasi Vallue Added Centre & Publik menurut Perwilayahan (Zoning) Pemerintahan. Induk perusahaan adalah organisasi inti yang akan melahirkan anak-anak perusahaan dan sebagai Koordinasi-Sinkronisasi sistem KAI.

Unit Pembangunan Rel yang selama ini direncanakan & dibangun Pemerintah, sudah saatnya dijadikan anak perusahaan infrastruktur, misalnya: PT.Indo-RT (Indonesian Railways Transport). Pendirian unit usaha khusus untuk rel, dapat memiliki fleksibilitas dalam perencanaan, pembangunan dan kerjasama investasi dengan sumber-sumber keuangan, dengan dasar “bagi hasil keuntungan” (bukan pinjaman), untuk menghindari “default” atau masalah yang berhubungan dengan asset lahan atau asset KAI. Penyediaan infrastruktur rel oleh Anak perusahaan akan memiliki “keterukuran” usaha yang tinggi dalam pembangunan jalur-jalur baru, perbaikan-pemeliharaan dan perencanaan pembangunan kereta api di luar Jawa. Sumber-sumber keuangan yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah beserta masyarakat dapat dimobilisasikan dalam investasi anak perusahaan rel. Sedang integrasi usaha prasarana adalah Stasiun dan jasa property diatas lahan-lahan KAI yang selama ini nganggur-kumuh di kota-kota besar. Dengan demikian, kalkulasi beaya-keuntungan (cost-benefit) dari investasi pembangunan rel memiliki komplemen dengan Stasiun sebagai kontrol penghasilan, dan unit property (hotel, mall, mart, gudang dll) sebagai tambahan income. Pemerintah daerah dan masyarakat daerah yang terlibat dalam kapitalisasi (kepemilikan saham) akan lebih memelihara prasarana rel KA.

Unit usaha Loko-Gerbong (Carrying) akan lebih mudah dijadikan anak perusahaan / unit usaha dengan membuka kesempatan swasta dan Pemerintah Daerah untuk masuk dalam usaha loko-gerbong (carrying). Persaingan usaha SANGAT DIBUTUHKAN sebagai pemacu motivasi untuk kompetisi: pelayanan, tarif dan vallue added. Masuknya swasta dalam carrying akan lebih meringkankan negara dimasa mendatang yang alami kesulitan dalam menutupi subsidi kerugian KAI, sekaligus sebagai kontrol terhadap “budgeting” KAI dan menekan kebocoran. Demikian pula untuk unit pelayanan “Bengkel Perbaikan” sudah harus dijadikan unit usaha (anak perusahaan) dan terbuka untuk Swasta masuk dalam usaha Bengkel sebagai kompetitor, sehingga unit bengkel tidak menjadi “cost & sunk cost centre” bagi KAI.

Untuk merespons tuntutan permintaan yang sangat besar di wilayah Jabodetabek, sudah saatnya dibentuk anak perusahaan , misalnya Joint-Venture dengan Pemda DKI-Jaya dengan membentuk PT.MRT-KAI-Jaya (Mass Rapid Transportation KAI Jakarta Raya). Pembentukan usaha patungan KAI dengan Pemda DKI-Jaya dan masyarakat, akan mempermudah-mempercepat pembenahan dan perubahan mendasar dalam KAI di berbagai wilayah.

a) Pembagian Usaha (Value Added & Publik) dan Organisasi Menurut Visi Mendasar
b) Kajian Perusahaan Induk & Anak Dalam Menjawab Tuntutan Kapitalisasi
c) Kapitalisasi (obligasi) dengan melibatkan PEMDA & Masyarakat untuk membangun infrastrukstur & Stasiun (+Property dalam Revitalisasi asset KAI)
d) Kapitalisasi Syariah untuk Anak Perusahaan Pengangkutan (Carrier)
e) Anak Perusahaan Jasa Pemeliharaan Rel & Carrier (VA Center)
f) Anak Perusahaan Jasa Property & Pergudangan (VA Center)
g) PP Yang Dibutuhkan

B3. Rencana Urgent Jangka Pendek

Penerbitan Obligasi/ Penyertaan Daerah/ Usaha patungan (Perusahaan & Masyarakat) dengan PEMDA DKI dan masyarakat dalam melahirkan MRT JAYA sudah menjadi urgensi yang harus segera dilaksanakan, mengingat daya dukung jalan darat Jakarta tidak memadai (makin macet) dan membludaknya jumlah penumpang commuter (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang & Bekasai). Jakarta pada th 2014-menurut proyeksi JICA, akan mengalami kemacetan luar biasa di seluruh jalan darat !. Keuntungan yang sebenanrnya sangat-sangat besar dari MRT-Jaya juga dapat dipergunakan untuk mempercepat pembangunan di propinsi lain Jawa, dan yang penting : MEMPERCEPAT DEMOLISHING FUNDAMENTAL ERROR KAI !!!!
Tulisan ini hadiah idea boeat Mas Ronni Wahyudi (dirut KAI) & Ki Ageng AK.Hadiwijoyo (dirkeu), semoga anda bisa lahirkan "ORIENT EXPRESS INDONESIA.....agar Perjalanan ke Solo lebih ROMANTIS & CEPATTTT.

Minggu, 30 November 2008

Ekonomi Ekosistem, Menjaga Kelangsungan & Keseimbangan






EKONOMI HIJAU EKOSISTEM
(Greenomics)


Paradigma perekonomian & pembangunan kita harus didasarkan pada jati diri bangsa, yakni Ekonomi Kemanfaatan: Pertanian, Kerajinan, Industri, Perdagangan riil. Segala usaha, didasarkan pada kemanfaatan nyata. Bukan Value Engineering kapitalistik semu (penuh tipu muslihat). Ekonomi harus dibangun, yang mampu membangkitkan peran sosiologis masyarakat beserta potensi yang dimilikinya: lahan, daya kreatifitas, kemauan, keunggulan. Manusia dan sumber-2 aset, dikembangkan. Bila manusia berkembang (maju), niscaya akan tumbuh daya kreatifitas & daya kemajuan berikutnya. Contoh riil: lahan petani yang kini hanya rata-rata 0,5 ha/ petani, sudah saatnya ada Inovasi & kreatifitas pengolahan, baik jenis tanaman, pola penanaman, permodalan dan keterkaitan dengan pasar atau industri berikutnya. Misalnya, dengan kerusakan hutan yang mencapai 82 juta hektar, saatnya dikembangkan Visioner Hutan Mini atau Kebun Mini (hasil buah dan kayu) yang bisa mendukung dunia industri Kertas, plywood, meubel & kerajinan. Kini, kita kekuarangan kayu jenis Meranti dari hutan. Padahal pohon Duren, Kecapi, Bayur dll sangat besar potensi dikembangkan. Dalam masa 4-10 th bisa menghasilkan buah, selanjutnya pohon usia 10 th keatas bisa menghasilkan kayu. Dampak positif thd lingkungan sangat besar: menyerap air (kurangi banjir) , hasilkan O2 segar, menahan Erosi. Sungguh Ironis: Berbagai Bendungan (dam) yang dibangun dengan biaya puluhan trilyun rupiah di Jawa, kini mengalami pendangkalan hebat, 4 kali lebih cepat dari rencana, karena tidak pernah direncanakan: Usaha Perlindungan dengan Visi yang Jelas (Ekonomi Hijau: Penanaman & Konservasi) wilayah hinterland yang merupakan masyarakat pedesaan-pertanian. (Mari belajar Kisah sukses Negara Muangthai dengan Duren Montong bukan hanya memajukan masyarakat, tetapi juga merubah citra dari Negara dengan wisata Sex ke Negara Pertanian maju.). Kita harunya malu, pohon Kecapi dikembangkan Muangthai dengan rasa buah jadi Manis (aslinya Asam), dan pohon tumbuh lebih cepat besar. Pernahkan terpikir, Perkebunan Alpokat, Nangka, Matoa dll ? Padahal pohon tsb begitu MUDAH nya tumbuh, berkembang & berbuah !!!. dan besar permintaan pasarnya.


Bangsa kita, telah terbawa hanyut dalam ekonomi pasar kapitalistik, yang menampakkan “kesemuan”, bagaikan mencari fatamorgana, penuh jebakan dan ketidak-pastian. Betapa tidak. Mahzab & teori ekonomi berdasar pertumbuhan telah menyesatkan. Sumber alam, dikuasai & dikuras oleh kekuatan modal, disekuritisasi oleh perusahaan swasta (Nas & Asing), saham dijual ke pasar modal, dan jadilah: sumber alam (emas, batu-bara, migas, nickel dll) dikuasai kekuatan modal. Berlawanan dengan pasal 33 UUD.45 (Segala sumber alam, bumi, tanah & air dikuasai Negara & digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat). Begitu juga penguasaan hutan, lahan dengan HPH. Kini, sudah begitu boanyaknya pengusaan Lahan Tambang, Kawasan Penangkapan Ikan, Perkebunan, Hutan oleh swasta asing. Ekonomi nasional, begitu rawan terhadap Ancaman : Ketidak Nyambungan !. Hantaman sedikit saja terhadap gejolah harga Batu-bara, migas membawa Ancaman Krisis Energi. Bahkan Negara Agraris, tetapi RENTAN terhadap ancaman Krisis Pangan dan Kelaparan.


Saatnya, teori ekonomi & paradigma pembangunan mendasarkan falsafah alam: Ekonomi yang Menjamin Keseimbangan Ekosistem (termasuk manusia-masyarakat untuk bertahan hidup dan maju !). Better late than never. Kami galang ekonomi hijau, dengan Visioner Hutan Mini dan Kebun Mini. Bibit tanaman kami usahakan secara “self Financing”. Kami juga hasilkan produk “Kerajinan” berupa meja Solid dari pohon budidaya: kayu Mahoni, Jati, Mangga dan kayu Duren (Bukan Kayu Hutan). Apabila anda tertarik, call me dan dukung kami !!. Kami men-desain, membuat, mengukir Karya Meja Solid sebagai Usaha Halal untuk Greenomics.


The Aristokrat Solid Table and Greenomics.


Sunan Mursyid 0812 10 266 099



Sabtu, 08 November 2008

Karya~Industri Batik Kita




KELEMBUTAN KARYA BUDAYA JAWA
MENGHADAPI GEMPURAN & PENGINGKARAN:
KASUS: Industri BATIK & KAYU di Jawa

(Sunan Mursyid)


Falsafah budaya Jawa, yang diresapi dan membentuk karater manusia-masyarakat Jawa telah melahirkan sosok peradaban masyarakat yang memiliki kearifan hati, keluhuran budi dan keteguhan jiwa yang memberikan keberkahan hidup, dalam kiprah dari hari ke hari ~ hasil mengolah sumber daya alam dan bahan industri ~ menjadi kerajinan batik (membatik) dan kerajinan kayu (nyerut, ngukir, mahat dan nyetel). Falsafah Jawa yang bernuansa kelembutan itulah, yang kini menjadi tonggk penghidupan – dan suatu gumpalan industri unggulan yang telah memberikan contoh peradaban yang maju. Meskipun kemajuan peradaban itu telah diingkari-dikhianati secara terencana-sistematis dalam masa Orde Baru, kearifan dan keteguhan jiwalah yang tetap menjaga kedua industri kayu dan batik mampu bertahan dan maju.

Kita dengar keseharian nasehat para orang tua pada anaknya, Le, gemi setiti ati-ati (Nak hemat dan hati-hati), Alon-alon waton kelakon (pelan-pelan asal berjalan), Becik ketitik Olo ketoro (baik-benar tertandai, salah-jelek akan kentara-jelas), Ojo dumeh (jangan sombong), gawean kudu ditresnani (pekerjaan harus diresapi-disenangi) adalah kata-kata singkat pesan yang membentuk watak pada anak, dengan contoh nyata yang diberikan. Kain batik yang kini menjadi kebanggaan kerajinan nasional, adalah hasil perpaduan seni dan industri, yang dimulai dari :
* Penggambaran sketsa desain (motif) oleh seni rupa tangan pensil diatas kain
(mori), bermotifkan nuasa alam daun, bunga atau l;ingkungan sekitar,
* Penulisan atas motif diatas kain dengan Canting (alat pelukis diisi cairan
malam (bahan lilin) panas-encer, atau dengan cara diCap yang telah dicetak dari tembaga, untuk menutup motif yang dibentuk dari proses pencelupan,
* Pencelupan (medel) kain yang telah di cap atau dicanting dengan air dan bahan
pewarna yang dipanaskan, untuk mewarnai bagian yang tidak tertutup,
* Pengeringan dan pengerokan (pengelupasan) malam yang melindungi. Proses
diulangi dengan
penutupan lilin untuk motif lagi dan pencelupan berikutnya.
Proses diatas dilakukan secar cermat, pelan-pelan rutin dari pagi hingga sore hari, yang dilakukan oleh wanita (ibu-ibu) untuk Pencantingan ~ sambil mendengarkan tembang-tembang Jawa atau cerita Ketoprak sebagai inspirasi yang menjiwai kain batik. Pencelupan (pewarnaan) oleh pria. Untuk bahan kain ukuran lebar 110 cm dan panjang 200 cm, memerlukan waktu proses hingga 15-20 hari, tergantung pada kerumitan motif, kombinasi warna dan kehalusan gambar. Hasil penjualan kain batik dengan proses tangan (penulisan tangan) yang rumit dan sangat halus dengan bahan sutera bisa mencapai Rp.7–20 juta. Sedang dari bahan kain katun primisima, dapat mencapai Rp.2-5 juta. Ketekunan proses setiap hari dari buah kreasi seni, kerja fisik dan proses industri inilah yang menghasilkan produk kain batik berkualitas ~ yang digandrungi di berbagai negara. Budaya gemi-setiti (hemat & teliti) selain diterapkan dalam membatik, juga menabung sedikit demi sedikit, yang berlangsung setiap hari. Hasilnya, secara pelan dan pasti, muncul pengusaha-industri batik yang cukup tangguh di Solo, Yogya, Pekalongan dll.

Industri kerajinan kayu (ukir-pahat) di Jawa telah melahirkan peradaban masyarakat pengarjin kayu yang terkenal dengan hasil Ukir-ukiran & pahatan di Jepara. Filofofi sederhana dalam hidup keseharian dan proses pembuatan dilakukan secara teliti, dari pemilihan bahan kayu (Jati), pembelahan, pemotongan, pengambaran motif, dan pengukiran serta penyetelan hasil ukir-2an. Hasil kerjainan kayu Jepara yang tergolong paling rumit adalah Relief ~ berupa ukir-2an berbentuk 3 dimensi, yang biasanya bermotifkan perang Bratayuda, Arjuna dlsb yang diambil dari cerita pewayangan. Proses ketekunan, desain, mengukir, menyetel, mlitur (finishing) inilah yang menjadikan ukir-ukiran kerajinan kayu memberikan hasil yang penuh berkah bagi msyarakat Jawa, di Jepara, Solo, Kudus, Yogya, Banyuwangi dll. Khusus Jepara, hasil ekspor industri kerajinan kayu ke manca negara telah melebihi Rp. 1 triliun setiap tahun.

Curahan ekspresi dengan penuh kelembutan sepenuh hati, dalam melaksanakan kerja, menikmati hidup dari hasil kreasi dan keringat, memberikan atmosfir & nuansa kehidupan yang sungguh nyaman. Uang sepenuhnya dari hasil inilah yang memberikan jiwa Arif masyarakat Jawa, sehingga berkomunikasi dan ngobrol pun terasa lebih hidup.

Gambaran dalam 2 (dua) masyarakat Batik dan Pengrajin Kayu diatas, mengalami pertempuran hebat dengan masuknya Perusahaan dengan kekuatan Kapital, baik di Solo-Yogya-Pekalongan dan Jepara. Di Jepara, perusahaan besar dengan dukungan modal dari Italia, Korea Selatan, Singapura dan Belanda, sangat ramai masuk dan menyedot pekerja / pengrajin lokal Jepara. Demikian pula di Solo, pengrajin batik banyak disedot dan dijadikan “pekerja” atau buruh. Bahkan pada masa 1975 –1980 Industri kerjaninan Batik mengalmi tekanan “persaingan yang sangat tidak adil” oleh Kebijakan Pemerintah: Pembatasan kredit bank hanya Rp.50 juta, dan tekanan diberlakukan Pabrik Batik Cetak (Printing) dan pengadaan seragam sekolah & pegawai negeri (korpri) pada beberapa industri batik Non-Pri dalam jumlah besar. Konyolonya, Pak Harto dan Ibu Tien adalah putra-putri kelahiran Solo, justru kurang melindungi. Akibatnya, jumlah pengrajin dan industri batik menurun drastis, kios Pasar Klewer Solo sebagai kebanggaan pasar Batik terbesar di Jawa banyak yang dijual ke warga Non-Pri, banyak pengrajin tulen berpindah profesi jadi pekerja (buruh). Demikian pula industri-pengrjin kayu Jepara, menghadapi tekanan-persaingan dari perusahaan besar dengan kekuatan modal besar & jaringan pasar. Pemerintah dalam masa Orba, Habibie, Gus Dur dan Mega pun tidak menunjukkan komitmennya dalam melindungi apalagi membesarkan mereka sebagai pribumi Indonesia (pengkhianatan). Manakala kita bicara pribumi atau membahas pribumi dalam dialog-seminar dituduh melanggar SARA oleh Pemerintah, pakar sesat dan bahkan media pers (Suku agama ras & antar keturunan), padahal kebijakan yang dilakukan dipenuhi SARA ~ ibarat Maling teriak maling.

Matikah industri Batik dan Pengrajin Kayu di Jawa oleh pengkhianatan tersebut ?. Sejatinya falsafah Jawa dalam peradaban yang memperoleh keberkahan itulah yang melindungi dan menjaga, eksistensi dan kelestariannya.

Kajian ringkas diatas, haruslah memberi gambaran tentang pengingkaran bagi kaum generasi muda dan pribumi untuk sadar dan menggalang kebangkitan, untuk mengambil langkah memperjuangkan Hak-hak warga Pribumi dan mengawasi Pemerintah-Legislatif dalam memegang Amanat Rakyat dan Kewajibannya pada pribumi – yang pada akhirnya adalah Wujud Hakiki dan Tanggung Jawab Pemerintah pada rakyat. Kaum muda mari berjuang secara kompak untuk kemajuan kaum pribumi.

Selasa, 04 November 2008

SOLAR ENERGY for SUSTAINABLE POWER GENERATION










Solar Energy Power Generation is The Solution

Here we provide the solar energy power generation, built in mountain village "Pringsewu-Pacitan" (The Village of the Mother of the President of Indonesia, Soesilo Bambang Judoyono), provided by The Ministry of Energy & Mineral with cooperation with PT.Altari Energy.The Power House System developed is the first, generating 17 kva electricity, capable to provide for 126 houses (family). Each family benefits for lighting, watching television, and tape/radio. This is one of next solution for Sustainable Power Generation facing the scarcity & costly of gas & oil in the world. PT. Altari (Alhamdulillah ada Matahari ~ Thanks God, YOU give us The Sun) is The Indonesian Company, dedicated for Green Economy.